Total Tayangan Halaman

Jumat, 08 Juli 2011

Sepenggal Kisah Sedih dari Cikandang

Kadang aku berpikir aku adalah orang paling susah dan melarat sejagat raya ini. Namun, apa yang aku saksikan hari ini mengubah segalanya. Ini semua karena si Agus, bocah pencari kayu bakar yang bercita- cita menjadi dokter. Dilihat sekilas, tidak ada yang menduga anak yang berusia sepuluh tahunan ini, sudah harus mengalami dan merasakan “kepahitan” seperti ini. Tak ada yang sangka, kalau bocah belia ini sudah harus bekerja keras untuk membantu menafkahi keluarga, menafkahi sang ayah.
Agus, putra dari Mak Isah dan seorang lelaki tua yang tergolek di atas tempat tidur karena stroke yang dideritanya. Mak Isah, ibunda Agus, seorang wanita tua yang sedemikan tegar untuk menjadi tulang punggung keluarga. Mak Isah mengerjakan apa saja untuk menghidupi keluarga kecilnya. Wanita kurus ini membersihkan kandang sapi. Bisa kita bayangkan betapa menjijikkannya apa yang dia lakukan itu, kotoran- kotoran sapi yang pasti ada di setiap pelosok kandang harus ia bersihkan dengan satu harapan, keluarganya tidaak kelaparan. Setiap hari dia melakukan pekerjaan ini dan berapa bayarannya??? Rp. 2000 per hari. Namun, Agus, si anak baik, menemani ibunya dan dengan segala cinta ia membantu ibunya membersihkan kandang sapi itu. Seperti biasa, jika pekerjaannya sudah selesai, mereka pulang, dengan wajah penuh sukacita dengan senyum riang yang tersungging di bibir mereka. Melihat senyum mereka hatiku perih sekali, bak diiris- iris silet lalu disiram air perasan jeruk nipis.
Tiba- tiba aku menyaksikan mereka masuk ke suatu tempat, yang  bahkan kandang ayam tetanggaku jauh lebih bagus, lebih baik dari tempat yang mereka sebut rumah itu. Sekarang hatiku yang diiris- iris itu sedang disiram air garam. Di tempat itulah, di salah satu ruangan yang tidak tega rasanya aku sebut kamar, ayah Agus tergolek. Ayahnya begitu renta, sakit stroke yang dideritanya memaksanya menjadi lemah, memaksanya pasrah. Satu hal yang menyakitkan, dari awal beliau sakit sampai saat ini, belum sekalipun ia mendapat penanganan medis, hanya perawatan seadanya dari Mak Isah dan Agus. Agus hanya bisa membantu seadanya. Ia selalu membantu ayahnya mandi, makan, memijat- mijat dan menghibur ayahnya. Agus pernah berkata dengan rasa penuh cinta terhadap ayahnya “Agus teh pengennya jadi dokter, Agus mau buat Abah sembuh, biar Abah nggak susah kayak gini”. Harapan itu begiitu tulus, begitu suci. Harapan mulia itu mungkin hanya jadi angan kosong, mungkin Agus bermimpi dengan segala ketidaktahuannya atas mahalnya biaya untuk menjadi seorang dokter. Sekarang pun, Agus tidak bersekolah lagi.
Pagi begitu dingin, dingin menusuk- nusuk. Tapi setiap pagi, inilah yang dilakukan Agus setiap hari. Ia menuju kebun teh, dan mulai mencari harta karun bagi dirinya, KAYU BAKAR. Kayu bakar ini ia cari, bukanlah sebagai piranti ibunya melainkan untuk dijual lagi. Untuk membuat dirinya hangat, Agus hanya menggunakan jaket semata wayangnya. Agus memajat pohon Salamander, untuk mendapatkan kayu bakar yang akan dijualnya. Setelah merasa cukup, ia mulai memperkirakan seberapa banyak per ikatannya. Ia berkeliling menawarkan kayu bakarnya, terjual jugalah satu tumpukan kayu bakarnya itu dua ribu rupiah. Dalam perjalanan menuju rumah dia mampir ke sebuah warung lalu membeli telur untuk makan ayah ibunya, hanya dua butir yang didapatnya. Dengan senang hati Agus melanjutkan perjalanan, tiba- tiba ia tersandung lalu jatuh dan…… jatuhlah telur itu dan pecahlah telur itu. Betapa sedihnya hati Agus, tapi ibunya segera menghiburnya “ Nggak apa- apa, Jang”. Lalu kayu bakar yang tidak laku ditumpuk dan nantinya akan dijual lagi.
Setiap sore, untuk menyambung kehidupan keluarganya, Mak Isah membuat gorengan untuk dijual. Bersama Agus, ia menawarkannya dari rumah ke rumah. Ibunya berharap Agus bisa sekolah lagi.
“Tenang, Gus!! Sesusah apapun kamu, kamu tidak sendirian, Tuhan melihat apa yang kamu jalani sekarang. Teruslah berusaha Tuhan akan menjawab doa- doamu, mewujudkan harapanmu”.

Senin, 04 Juli 2011

Kisah Si Lelaki Tua Penjual Susu Kedelai

Kemarin, 3 Juli 2011, hari itu hari Minggu, hari Minggu yang membuatku penat akan segala aktifitas yang telah terjadi. Mulai dari suara anak- anak yang terlalu ribut dan sangat  mengganggu di gedung Sekolah Minggu. Aku muak dengan anak- anak nakal yang susah sekali diatur. Aku tegang, mungkin tensi darahku naik. Setelah Sekkolah Minggu usai aku berusaha mengembalikan moodku agar jaadi lebih baik, tapi apa hasilnya, aku harus berlama- lama di gereja untuk menunggu orang bersama ibuku. Lama sekali. Perut lapar, emosi kacau balau untung saja ada bolu kukus yang disediakan untuk para pelayan pagi itu, jadi aku makan saja.
Setelah orang yang ditunggu- tunggu datang, ibuku dan aku ke tempat yang jadi target selanjutnya, sebenarnya target ibu, tapi karena dia mengiming- imingiku dengan mi celor , salah satu makanan khas Palembang, aku bersedia menemaninya. Aku menunggu di luar, lumayan lama, aku enggan masuk ke dalam karena terlalu padat. Aku melihat- lihat betapa banyaknya pengemis yang sudah hampir sama banyaknya dengan orang- orang yang belanja. Ibuku keluar dari toko itu. Lalu kami menuju tempat penjual mi celor yang letaknya tidak jauh dari toko itu. Kami hanya tinggal berjalan saja ke sana.
Di sana, tidak jauh dari gerobak si penjual mi celor, ada orang gila. Saat aku duduk dan memesan, si orang gila tertawa dengan keras (bahkan orang gila menertawaiku L) . Aku ketakutan, tapi aku mencoba rileks, lalu tiba- tiba dia, si orang gila itu, bertasbih, ngebut sekali. Aku shock.
Ga papakata si penjual mi. “Dia ga ganggu” dia menarik nafas. “Dulunya dia ini adalah ulama, tidak lama setelah adiknya menjadi Mujahiddin, dia gila, katanya dia “dibuat” orang. Dia dari golongan Islam apa itu namanya… Aduh, aku lupa apa namanya, tidak ada kok di  Alquran-ku”
“Islam radikal..?” aku bertanya

Aku hanya sekedar mengangguk dan melanjutkan makanan ini, karena makanan ini salah satu makanan kesukaanku juga. Saat aku sedang menikmati makanan ini, saat aku sedang menghirup kuahnya yang begitu nikmat. “SLURP”, tiba- tiba “KRING- KRING”. Sepeda tua itu dengan dua tumpuk keranjang berisi susu kedelai yang bertuliskan SUSU KEDELE DINGIN HANGAT 100% GULA ASLI. Karena penasaran dengan dengan rasanya “GULA ASLI” aku beli, harganya tidak mahal seribu rupiah. Saat aku coba, yep, ini benar- benar gula asli.
“Nah, itu dia. Aliran keras, mungkin dia pernah jahat sama orang lain, jadi digituin” kata si Mamang.
Kemudian ibuku, bertanya pertama- tama soal susu kedelainya. Tapi karena logatnya yang begitu khas, ibuku bertanya asal orang ini. Dia akhirnya bercerita, bahwa dia adalah orang Manado, dia di kota ini sudah lumayan lama, ia seorang Kristiani dan istrinya Muslim. Dulu dia rajin ke gereja, tapi karena keadaan ekonomi terpaksa ia, menunda untuk datang ke gereja. Lalu ibuku menasihatinya, si Bapak berkat dengan logatnya yang khas “Saya maunya gitu, tapi susah sekali, Bu…”
Dia bercerita bahwa dulunya dia seorang pelaut, aku agak aneh dengan kaca matanya, lalu tidak lama kemudian dia bilang bahwa matanya tidak berfungsi sebelah itu gara- gara katarak dan sebelahnya sudah dioperasi melalui program seperti Peduli Kasih. Dia bilang pada ibuku, dia akan menyempatkan dirinya datang ke gereja. Si penjual mie celor pun ikut menasihati.
“Persiapan untuk akhirat, Pak. Ga ada yang tahu waktunya”
Begitulah, aku sedih ingin menangis, melihat orang setua itu dengan beberapa kekurangannya, ia tetap berusaha untuk mencari uang secara mandiri dan halal, dia tidak mengemis atau pun melakukan perbuatan yang tercela. Dari sini aku juga belajar bahwa alangkah baiknya kita memilih pasangan yang seiman dengan kita, jika beda kita sendiri yang akan kesulitan. Dan yang terpenting, tempatkan DIA di atas segalanya maka hidup kita BERAT akan berubah menjadi BERKAT.

                

Senin, 20 Juni 2011

Rahasia di Balik Lima Roti dan Dua Ikan


Ketika saya menjadi bodoh karena perhitungan Tuhan, saya dituntut untuk percaya dengan apa yang dihadapkan di depan mata saya. Lima roti dan 2 ikan untuk lima ribu orang dengan sisa dua belas bakul, apa itu kalau bukan mujizat..? Bahkan guru matematika saya pun tidak bisa menjelaskan dengan rumus vector, integral, atau apapun itu, tapi yang jelas ini bisa disebut dengan FUNTASTIC.Namun, ketika anak kecil itu memberikan segala yang ada padanya tanpa takut merasa kekurangan, karena, mungkin roti- roti dan ikan itupun tidak cukup untuk keluarganya, ia seolah- olah menegur anak Tuhan masa kini, yang acap kali, takut berbagi karena takut kekurangan (bahkan itu menimpa saya).


Lima dan dua. Bukan suatu kebetulan ketika, Allah menciptakan kita juga dengan angka- angka itu. Lima jari untuk masing- masing kaki dan tangan, baik kana maupun kiri, serta dua mata dan dua telinga. Dengan ke-lima jari, Tuhan menginginkan kita untuk berkarya dengan 5 jari di masing- masing tangan dan kaki, Ia juga inggin melihat kita melihat segala sesuatu yang baik, yang sudah Ia sediakan, mendengarkan kabar baik dan membaginya kepada sesama. Dengan lima jari dan dua telinga serta mata, intinya Tuhan mau agar kita membuat sesuatu yang membawa berkat  besar bagi sekitar kita, kita bisa membuat 5000 bahkan lebih untuk sekitar kita.
Memberi dengan sepenuh hati untuk jadi berkat yang besar buat sesama. J

Senin, 06 Juni 2011

My Letter to God


Tuhan, Aku Butuh Uang
-Sebab malapetaka mengepung aku
          Sampai tidak terbilang banyaknya.
Aku telah terkejar oleh kesalahanku,
          Sehingga aku tidak sanggup
          melihat;
lebih besar jumlahnya dari rambut
di kepalaku,
          sehingga hatiku menyerah.-
Mazmur 40: 13

Tuhan, aku butuh uang, sangat butuh….
Serasa tak dapat berkutik lagi tanpa benda yang bernama UANG itu, aku tertekan karena keadaan itu, keadaan tak punya uang. Susah. Susah sekali, sesak, menyedihkan. Segalanya terbatas, aku tak bisa memiliki apa yang aku inginkan, bahkan untuk memiliki apa yang aku perlukan pun, huhhhhh susah sekali.
Tuhan, aku butuh uang, sangat butuh dan mau….
Segalanya terasa menghimpitku. Setiap kebutuhan terasa  menukik menancap tepat di tengah- tengah jantung keluargaku. Ayahku ditipu orang, dan akhirnya apa….? Hal itu, teentu saja, berimbas pada keluargaku. Namun, ya, mungkinlah itu mujizat, ah, aku rasa bukan, itu peertanggung jawaban Tuhan atas hidup kami, kami masih bisa makan, masih bisa mengenyam pendidikan hingga bangku perguruan tinggi, ya, itu semua atas kebaikan dan lebih tepatnya, KASIH-Nya. Tapi, aku sangat butuh uang, ya, Tuhan.
Tuhan, aku butuh uang, sangat butuh, mau dan mengidamkannya (?)…
Begitu bayak keperluanku begitu banyak keiinginanku, sayangnya aku terjepit dalam sebuah kasus, yang diderita banyak orang. AKU TIDAK PUNYA UANG. Tuhan, tolonglah, aku dan keluargaku sangat membutuhkan uang, kami dalam posisi melarat. Kami goyang bahkan hampir roboh. Tuhan, aku harap, jangan sampai uang yang tak kami miliki ini menghancurkan kami.  Aku tak mau rusak gara- gara tak punya uang, aku tak mau sesat gara- gara berhala masa kini ini, aku tak mau aku dan keluargaku dikendalikan, lalu tak berdaya di depannya dan kami berakhir dalam bentuk kepinggan- kepingan kehancuran. Tapi, aku mau jujur aku letih, tak punya uang. Kami sudah meminta kepada-Mu, kami juga sudah mengetuk, kami bahkan juga selalu berusaha untuk mencari. Tapi aku tak tahu, apakah cara kami benar saat meminta, ajari aku, Tuhan.
Tuhan, aku butuh ENGKAU….
UANG MEMANG PENTING, TAPI TANPA-MU ITU TAK BERARTI. Kau pasti lihat tiap rengekanku, keluhanku, tentang keadaanku yang payah. Mereka (mungkin) tidak peduli dengan keadaan kami, mereka ada di dekat kami, saat uang itu ada. Betapa kejamnya dunia yang ku lihat, mereka bahkan menyapa kami untum sekedar basa- basi saja. Betapa berkuasa benda yang bernama uang itu. Aku tidak mau seperti itu, Tuhan. Aku mau apa yang Engkau mau. Tak peduli seberapa beratnya, buat aku mampu bertahan hingga akhir, buat aku kuat untuk menguatkan. Satu hal yang ingin aku bilang pada-Mu, tolong berikan jalan keluarnya padaku dan keluargaku. Aku rasa Engkau mengerti, seberapa susah hal sedang kami hadapi. Tolong bukakan pintu untuk kami bisa agak merasa longgar.
Tuhan, aku butuh dan menginginkan-Mu…
Kau pasti melihat tiap tetes air mata kami, aku tahu kasih-Mu lebih nikmat dari uang. KAULAH JAWABAN ATAS SEGALA PERSOALAN-KU.
Tuhan, aku butuh, ingin dan merindukan-Mu...
Terima kasih, untuk ujiannya, aku akan lebih kuat nanti, pasti, saat kelak aku sedang tak punya uang. Namun, aku tidak mau tidak punya uang. Ehm, mungkin ini kedengaran munafik, tapi ini dari hatiku, SAAT KELAK AKU TIDAK PUNYA UANG DAN TAK PUNYA APA- APA, YANG PENTING AKU PUNYA ENGKAU, TUHAN!! Tapi bukan berarti aku tidak mau punya uang dan harta benda ya!!
Tuhan, aku bersyukur. Aku bersyukur memiliki-Mu. J
-Aku ini sengsara dan miskin,
     tetapi Tuhan memperhatikan aku.
Engkaulah yang menolong aku dan
meluputkan aku,
     ya Allahku, janganlah berlambat.-
Mazmur 40 : 18

Sabtu, 09 April 2011

Balada Si Kecil Dani



Bocah yang pendek itu setiap hari ada di warnet, selalu mengenakan kaos orange yang kemarin Lila lihat, Lila agak bingung sudah empat hari dia melihat anak laki- laki itu. Anak itu ramah, murah senyum, dia juga sepertinya tidak sungkan- sungkan untuk menolong orang , bahkan yang tidak dikenalnya. Hari keempat Lila masuk ke warnet itu, anak kecil itu masih tetap ia temui. Akhirnya, Lila memilih komputer yang berdekatan dengan bocah ingusan itu.
“Hei… Maen di sini terus ya…? Udah malem loh ini..!!” sapa ramah Lila.
“Heee…” senyum si bocah kecil itu kepada Lila. “Iya, Mbak… soalnya…” Dani tidak melanjutkan ucapannya.
“Keenakan maen game on-line yah…?” tebak Lila sok tahu. “Emang asik sih, aku juga seneng kok, dek. Tapi, ini kan udah malem, apa kamu ga dicariin mama-papa kamu ya..?. Entar kamu kena marah lo..” kata si Lila sambil senyum- senyum.
“Ga kok Mbak…” kata si Dani dengan senyum yang tidak enak “Ga dicariin kok, Mbak.”
Suasana hening sejenak, sebenarnya Lila agak khawatir dengan anak ini, dia merasa ada yang tidak beres dengan anak kecil ini. Dia menlanjutkan “misi”nya bermain game on-line, sementara, mungkin, teman- temannya yang lain sedang sibuk belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasional, sedangkan gadis setengah lelaki ini, cuek saja, seolah- olah temannya belajar untuk menolong dia di hari H nanti.
 “Ssttt.. sssttt” si Lila tomboy mendesis, memanggil si bocah kecil tadi.
“Kenapa, Mbak…” jawab si bocah lelaki itu. “Mbak manggil saya toh…?”
“Enggak, yang di sebelah kamu kok” kata Lila bersamaan dengan gerakan anak itu ke sebelah kirinya yang adalah dinding. “Ya manggil kamu dong, masa saya mau ngobrol sama dinding” ujar si Lila.
“Ohhh…” katanya tertawa. “Kenapa Mbak..?”
“Namamu siapa…?” tanya si Lila.
“Dani, mbak” jawab  anak itu.
“Kelas berapa..? tanyanya si Lila
“Dua SMP, Mbak” jawab si Dani lagi.
“Ohh, kayak masih SD kamu ya!! Hahahaaa” ejek Lila bercanda.
“Ah, Mbak… saya mah memang kecil dari dulu, saya yang paling kecil di kelas” kata Dani sambil garuk- garuk kepala (mungkin agak bingung dengan ke-atraktif-an Lila) “Nama Mbak siapa, Mbak…?” lanjutnya
“Lila. Bagus ‘kan..?” tanyanya dengan percaya diri.
Dani hanya tersenyum.
Senyum Dani malam itu, membuat Lila menyukai anak kecil ini, Lila mau berteman dengannya, meskipun, Dani masih anak kecil, tapi Lila merasa, Dani memiliki sesuatu yang tidak dimiliki anak- anak lain. Saat Lila pulang,Dani memang belum pulang, padahal itu sudah jam 11 malam, Lila bertanya- tanya dalam hati ga dicariin ortunya apa tuh anak?. Lila pulang dan tertidur tapi pastinya ia diceramahi dulu dengan mama dan kakak perempuannya.
Keesokkan harinya, setelah pulang sekolah, untuk menghindari ceramahan dashyat dari sang ibu, Lila memutuskan untuk ber-game on-line ria pada siang hari.
“Nah… udah di sini aja” sapa Lila ketika melihat Dani. “Ga ganti baju lagi…” bercanda aja, kok”.
“Eh, si Mbak, tumben siang, biasanya maennya malem- malem….?” sahut Dani.
“Dah makan belum, lo..? tanya Lila ceplas- ceplos.
Dani hanya tersenyum, dia agak malu mengakuinya, walaupun dia sangat lapar.
“Ga usah malu- malu-lah…?” kata Lila seolah- olah bisa membaca raut wajah Dani.
Dibelinyalah semangkuk tekwan untuk Dani, Dani makan dengan begitu lahapnya,Lila sangat terheran- heran melihat gaya makan anak kecil ini.
“Dan, kamu laper ya..? tanya Lila keheranan.
“Iya, Mbak, udah dua hari ga makan…” Dani keceplosan.
“Dua hari…?” Lila terkejut. “Lupa makan apa emang ga dikasih makan…? Lila melanjutkan.
                Dani menceritakan semuanya kepada Lila apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
“Mbak.. sebenernya aku tuh, lari dari rumah aku udah ga tahan lagi dengan keadaan rumah itu..” kata si Dani. “Aku tinggal di rumah Om dan Tanteku, Mbak. Tapi, tiap hari mereka marah- marah terus, aku capek, mereka selalu caci maki aku, aku capek Mbak, dengar hinaan yang kayak gitu terus tiap hari…”
“Mama, Papa kamu di mana, Dan…?” tanya Lila.
“Mereka udah.. cerai, Mbak” kata Dani menyesal.
Cerai… Ternyata itu lebih buruk dari pada yang Lila pikir, cerai lebih buruk dari pada mati.
“Aku bahkan ga pernah sekalipun ketemu sama Mama-ku, Mbak. Padahal aku pingin banget ngeliat wajah orang yang sudah melahirkan aku, aku pengen ngucapin terima kasih sama dia, Mbak. Pernah, waktu temenku curhat ke aku tentang mamanya yang selalu marah- marah sama dia, dia mungkin kesel banget, tapi jujur, aku iri dengan dia, Mbak.Ga ada yang memperhatikan aku dengan tulus, Mbak, semuanya kayak sinetron…” kata si kecil ini sambil berkaca- kaca. “Tapi, kadang- kadang aku, mau bilang ke dia, kenapa dia mau melahirkan aku, kalau akhirnya yang harus aku temui hidup yang begini rumit, kadang aku ngerasa capek, aku jenuh, kadang aku ngerasa ga sanggup jalanin ini.”
“Terus, Papa kamu di mana, Dan…?” tanya Lila penasaran
“Dan Papa ku, aku hanya ketemu sama dia dua kali seumur hidup, dia ada di Riau”
“Kenapa kamu ga tinggal sama Papa aja, Dan….?” Kata Lila memberi saran.
“Ga, Mbak…” jawabnya. “Papa kayaknya ga mau nerima aku, setiap aku telepon aja, Papa ga pernah ngangkat, kalaupun aku ngomong sama dai, dia pengennya cepet- cepet aja, dai seolah- olah menghindar aku jadi males, Mbak untuk ngubungin Papa, dianya aja cuek dengan anak kandungnya sendiri, mungkin itu juga yang bikin Om sama Tante ga peduli dengan aku”.
“Sejak kapan kamu keluar dari rumah, Dan..? tanya sarat emosi. “Kayaknya udah dua minggu ini Mbak ngeliat kamu di warnet setiap hari, loh….”
“Sebenernya, aku udah satu bulan keluar dari rumah, Mbak” jawab Dani. Sudah banyak barang- barangku yang ilang . Handphone ku hilang waktu aku Sholat Jum’at di Masjid, Mbak. Aku sedih juga saat itu, padahal itulah yang aku punya saat itu, Mbak. Itu satu- satuunya alat untuk ngubungin Papa.”
Aku agak bingung dengan kisah hidup anak kecil ini, dia masih kecil tapi jalan hidupnya begitu pelik.
“Jadi kamu tidurnya di mana, Dan..?” tanya Lila
“Selama setengah bulan belakangan ini, aku hanya di warnet ini, Mbak. Aku ga tidur, aku hanya main internet ini, padahal aku ngantuk banget, tapi kalo aku tidur aku bisa- bisa diusir, sama penjaga warnet, Mbak” tuturnya.
Lila tertegun, dia berusaha menahan air matanya, apa yang sedang dilihatnya saat ini, selama ini dia melawan Mama, mengabaikan Papa, tapi yang dia lihat saat ini, sungguh nyata, sosok lemah yang berusaha untuk kuat, mencoba bertahan dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya. Lila membawaanya ke rumahnya dan menceritakan segalanya kepada ibunya, kebetulan ada bibinya, mereka menitihkan air mata. Tante Wanda mengajak Dani ke rumahnya dan memberikan baju kepada Dani, di rumah Tante Wanda, Dani akhirnya bisa merebahkan badannya, meski hanya di atas kursi. Dia anak yang rajin, cepat tanggap dan bisa diandalkan. Keesokan harinya
“Tante, saya pamit ya.. Makasih banyak, ya Tante..” kata Dani sambil menyalami  Tante Wanda. Tante Wanda kebingungan, Zaki, anak laki- laki Tante Wanda juga bingung, kenapa dengan begitu cepat Dani memutuskan untuk pulang.
“Terus kamu mau tinggal di mana, Dan..?” tanya Zaki. “Udah tinggal di sini aja, kaamu bisa tidur di kamar aku juga, kita berangkat sekolah sama- sama”.
“Makasih, Ki..” jaawabnya sambil tersenyum ke arah Zaki. “Aku ga mau ngerepotin, makasih banyak ya, Tante, Zaki..”
Dani keluar dari rumah Tante Wanda dan kembali ke warnet lagi. Tantte Wanda memberi Dani sedikit uang, jadi Dani bbisa membeli makanan untuk besok. Sore hari, Lila melihat Dani.
“Kok…?” Lila menggaruk- garuk kepalanya.
“Heee… Iya, Mbak…” kata Dani. “Aku pamit tadi sama Tante Wanda, ga enak, ngerepotin..”
Lila kebingungan, padahal maksud hati Tante Wanda, Dani akan diangkat jadi anaknya.
“Ah, udahlah, Dan” kata Lila “Balik lagi aja, dari pada kamu luntang- lantung ga jelas, enakkan tinggal di sana, siapa tahu nanti Om sama Tantemu sadar..” Lila membujuk.
Dani berpikir cukup lama dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah Om dan Tantenya. Lila, Zaki, dan Om Fahrul, suami Tante Wanda, mengantarkan Dani ke rumah Omnya. Mereka menunggu apa reaksi Om dan Tante Dani, setelah tahu  bahwa keponakkan kecilnya yang lucu ini, sudah sebulan seperti gelandangan. Mereka menunggu hingga beberapa jam, setelah menngantarkan Dani, mereka menunggu di luar rumah, untuk mengetahui kelanjutan cerita Dani, apakah Dani akan dimarah- marah atu malah diusir. Namun, ternyata semuanya aman- aman saja. Mereka, Lila cs, kembali pulang ke rumah. Awan mendung ternyata masih saja di atas kepala Dani.Dia, lagi- lagi ditendang keluar dari rumah.
“Mbak Lila…” panggil Dani dengan air mata menetes di pipinya. “Aku kayaknya memang harus pergi, bener- bener harus pergi, itu memang bukan tempatku, bukn rumahku, mungkin mereka merasa aku hanyalah parasit dan aku juga ga punya hak untuk di tinggal di rumah itu sedikitpun” sambil terisak. Baru kali ini Lila melihat Dani menangis sepilu ini.
                Lila mengajak Dani masuk ke rumahnya. Dia menenangkan Dani, mendengarkan setiap keluh kesedihan yang terucap dari bibir Dani, ia begitu luluh melihat Dani. “Jadi, rencana kamu apa, Dan..?” tanya Lila. Dani berpikir sejenak, menarik nafas dan mencoba bersikap tenang dan mengelap pipinya yang basah “ Aku mau ke rumah temen aja, Mbak, temen sekolahku, Arif”. Dani memberikan nomor ponselnya kepada Lila “Nanti aku aktifin nomornya, pinjem handphonenya Arif” katanya sambil tersenyum. Hati Lila bagai disayat- sayat melihat senyum yang begitu bening dari Dani. Dani pergi, tanpa uang sama sekali, dengan kaki telanjang, Lila terperangah hingga lupa memberi uang  dan meminjamkan sandal jepit untuk Dani. Lila menangis semalaman, anak sekecil itu.
                Dani menghilang selama beberapa hari, tidak ada kabar sama sekali, nomornya tidak bisa dihubungi. Semuanya cemas, semuanya seolah- olah kebakaran jenggot, takut terjadi apa- apa dengan anak kecil ini, badannya kecil untuk anak seusianya, wajahnya tampan begitu polos, belum tahu apa- apa tentang jahat dan kejamnya dunia di luar sana. Apalagi sekarang marak perdagangan manusia, organ manusia, atau tindak sodomi (maaf), semua orang berpikiran negatif tentang keadaan Dani.
“Ada SMS masuk, dari nomor Dani” teriak Lila.
“Apa katanya bagaimana kabarnya…? kata Bu Nabila, mama Lila, tak sabaran.
“Mbak Lila, sekarang aku tinggal di rusun di Jalan R*d*al, aku sehat, Mbak…” itulah isi SMS Dani. Setelah Lila cari tahu ternyata Dani ditolong dengan para dancer yang kelakuannya agak mengkhawatirkan, menurut pandangan masyarakat sekarang, mereka dikhawatiran adalah para Homo yang suka dengan anak- anak kecil, apalagi anak kecil yang bagus seperti Dani, tapi untungnya Dani tinggal di rumah seorang perempuan yang kerap disapa Mami (keberuntungankah itu..?). Mendengar kabar sepert itu, teman- teman  Lila yang mengetahui masalah ini ingin menolong tapi hal itu diurungkan dengan sebuah ketakutan “NANTI KITA MALAH DIJUAL”. Semuanya berpikiran yang tidak – tidak, mereka beranggapan bahwa inilah akhir kisah rumit si Dani, menjadi santapan para Homo.
                Suatu malam, tanpa  disangka, si Mami mengantarkan Dani pulang ke rumah Om dan Tantenya dengan suatu ketegasan, dan sepertinya  si Om dan Tante merasa malu dengan tindakan Mami ini. Dani kembali tinggal di rumahnya, entah damai atau tidak, bagaimana dengan perkembangan Dani, sekarang itu ada di tangannya sendiri, “KAMI BERDOA BUATMU DANI..!! BERTAHANLAH!!.
                Satu hal, yang ingin aku tekankan, “ternyata, banci ataupun para homo ataupun “mami- mami” yang kita anggap berdosa dan tidak mengenal kasih melakukan dan menerapkaan kasih di kehidupannya”

Love is the Key

Kamis, 31 Maret 2011

Cinta Terbagi Lima


Oke.. Baiklah… Kedurjanaan itu sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. KEPOCIBEBCEP, sekarang itulah nama kelompok itu, padahal dulu nama komunitas nista itu adalah GODONG BANGKONG. Dinamakan Godong Bangkong, karena anggota genk  gaje itu mayoritas memiliki berat badan di atas 50 kg, tapi sejak bulan Februari tahun 2011,nama komunitas tidak penting itu berubah menjadi Kepoci Bebcep alias KEpompong keCIl yang beranjak menjadi BEBek CEPer, itulah sekelumit sejarah berdirinya KepociBebcep, anggotanya bertambah satu hingga tiga orang. Namun yang sudah pasti, Wawan, adalah anggota baru yang tetap, dan terkadang, Raju dan Lala, menjjadi anggota, yang terkesan ababil. Aku, Natce, August, Dolfi, Nisun, Mifdan, Endang, Kinda, Angie, Henyu, Kitrin, Yulsa, dan tentu saja bersama Wawan, Raju, dan Lala adalah anggota dari komunitas aneh nan durjana ini.
                Masalah demi masalah, kami hadapi bersama- sama, mulai dari pencapaian ambisi, kena semprot dosen (karena ngerumpi saat dosen ybs sedang menjelaskan), taapi semua itu kami hadapi dengan berani, sambil menatap masa depaan indah yang sudah menanti. Acap kali, kami membebaskkan imajinasi kami yang begitu liar dan membuncah- buncah, kami sering memberikan nama- nnama aneh pada suatu hal yang tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Kebanyakan dari kami memiliki sifat ramah lingkungan, seperti August, yang selalu tersenyum di sepanjang jalan kenangan, tapi terkadang dengan sangat iba- tiba ia juga bisa bermuram durja. Natce dan Nisun, dua gadis remaja yang belum memiliki ketetapan hati alias ababil, mereka berdua selalu beria- ria, mereka punya hobi yang lumayan aneh, JATUH CINTA,  entah mengapa hal itu menimpa kehidupan mereka. Memang sih, cinta anugerah, tapi kalau dalam waktu dua minggu bisa jatuh cinta pada tiga orang, apa itu namanya….??? Kadang aku bingung memikirkan tentang keanehan dalam hidup mereka, tapi ya sudahlah mungkin mereka sedang melewati masa metamorfosis.
                Lain lagi dengan  Henyu, salah satu cita- citanya adalah membangun sebuah toko buah dengan nama “ABABIL”, diinspirasikan oleh sebuah toko buah dengan nama “ABUBA”. Sedangkan, si Angie jadi- jadian itu berambisi untuk menaklukan seorang lelaki impiannya, si dokter ganteng itu, dengan cara apapun ia lakukan, demi cinta, itulah katanya.
Kedurjanaan kami yang lain adalah yang terjadi hari ini, 30 Maret 2011, hufttttt. Saat itu tiga orang durjaners, Dolfi, Raju, Mifdan, mengenakan pakaian dengan warna yang sama, akibat perut yang meronta- ronta, mereka memutuskan untuk makan siang bersama, mereka berjalan dengan baju couple mereka, iuhhhhhhh. Namun, kami memaksa Raju, membujuk tepatnya, untuk makan bersama kami, untuk makan bakso di GM Restaurant. Raju menolak dia bilang dia ingin makan nasi di warteg fakultas, well, baiklah, kammi relakan kepergiannya itu, dengan keyakinan bahwa suatu saat dia akan kembali pada kami, karena kami tahu betapa besar cintanya terhadap bakso.
                Lima menit berlalu, sepuluh menit kemudian, muncullah si Raju Aiphama, ini, “gw ga nefsong makan di warteg itu, makanannya gitu- gitu doang, sakit jiwa kali gw, lama- lama makan tuh makanan..” itulah kata- katanya saat masuk ke dalam istana kami alias kelas nista kami.
                Pukul 11.00 WIB kami memutuskan untuk bergerak menuju GM Restaurant, sesampainya di sana kami  menyaksikan bahwa begitu ramainya, tapi kami tetap mencari celah untuk bisa masuk ke dalam dan memesan bakso kami masing- masing.
Natce    : Mie  ayam bakso super
Aku        : Mie ayam bakso
Raju       :  Mie ayam
Wawan : Batagor
Lala        : Bakso super
“Lama banget sih…?” kataku “Laper nih!!!”. “ Haaa.. biasalah, Le, rame. Si abang bingung, lupa dia siapa aja yang pesen…” kata si Raju. Kmai menunggu cukup lama, akhirnya pesanan kami datang juga, kami saling melindungi hak dan milik masing- masing. “ Gw ga terima ayam lo banyak banget, gw ga sudih, Le..” kata si Raju kepadaku. “ Wahhhh… sakit jiwa loo, salain abangnya dong, tapi ini kan rejeki eke…” jawabku. Tiba- tiba si Natce, dengan sigapnya, menyerang mangkokku, dan siap   mengambil sayuranku. Dengan kekuatan bulan aku melindungi mangkokku ini, ” Ah, kenapa lo, ini punya gw, punya lo ada sendiri juga, durjana banget sih loooo, sakit jiwa lo….” Kataku. “Minta sayur ooo,  gw udah ga buang air berhari- hari nih…” kata Natce membela diri. “ Lo, pikir kita peduli sama lo…” Wawan menyeringai.          “ Tega” kata si Natce. Kami meyelesaikan makan kami di restoran nan megah itu. Selanjutnya kami melaksanakan tugas dan tanggug jawab kami , kami menyerahkan sebongkah uang kepada seorang teman yang bernama Iren, kami akan ketemuan di kedai kampus, cukup lama kami menunggu, banyak pengalaman baru yang kami dapat.
                Kami merasa agak tidak enak di kedai itu, kami hanya duduk, kami merasa seolah- olah mata menatap ke arah kami, akhirnya …
“Gw rasa kita harus mesen makanan, satu aja, cukuplah. Dari pada kita malu- maluin, hayoo.” Kami mengumpulkan uang kami, Natce menjadi investor terbesar,Rp. 2000,-, sementara yang lain Rp. 1000,-. Sembari kami menanti es krim aku berpikr lalu aku bertanya “ ada gay a es krim buntang??” teman- temanku sontak tertawa dan hanyut dalam imajinasi liar mereka masing- masing. Wawan lalu mengungkapkannya “Kalian lebih milih mana, buntang rasa vanilla atau vanilla rasa buntang..?”. Kami jijik membayangkannya, aku menjawab lebih baik yang rasa vanilla ajalah dan yang lain setuju,
Es krimnya datang, si Ibu pengantar agak kebingungan, orangnya ada lima tapi es krimnya cuma satu “tidak tahu diri” pasti itulah yang ada dalam pikiran si Ibu es krim. Es krimnya mungil sekali, menyedihkan, dasar es krim  durjana!!
. Baiklah kami akan mulai menggilir es krim cilik itu. Aku menyentuhnya pertama kali, lalu si Natce marah- marah kepadaku “aku investor tebesar, penanam saham terbanyak, inget itu…!!! Kami bergantian menikmatti es krim kekonyolan itu, kami berlima, dalam tindakan durjana itu, satu sendok yang dari mulut ke mulut, ini sebenarnya sangat menjijikan sekali tapi persahabatan itu lebih  dari sekedar kecapan es krim dan rasanya lebih manis dari pada es krim itu, dan persahabatan yang kami jalani ini, bahkan lebih durjana dari pada es krim bergilir itu.

Sabtu, 26 Maret 2011

Valentine on March

 Februari,Valentine, Februari penuh cinta, tapi lebih seru buat pasangan- pasangan kekasih yang sedang dibuai cinta (hueksss), buat para jomblo....? Untuk menghibur diri (padahal hampir putus asa) cinta juga bisa dibagi dan diungkapakan kepada keluarga, kakak, adik, sahabat. Hallo..... ga bosen apa memreka nerima cinta dari gw...?
Yah, beginilah nasib seorang jomblo yang dikelilingi para jomblo juga, kalaupun teman- temanku sudah punyya pacar, pasti pacarnya itu berada jauh dari mereka. Jadi, apa yang kata pepatah tentang sahabat itu memang benar- benar terjadi pada persahabatan yang indah ini.
Tahun 2011 ini, pada awal tahun, ehmm, sekitar awal Februari kemarin, salah satu teman baikku, Anggie, berulang tahun, dalam doanya pun dia memohon "Ya Tuhan, aku harap aku punya pacar di ultahku yang ke-19 ini, tolong ya Tuha (dengan sedikit memaksa). Amin". Luar biasa pikirku, ngebet banget wanita satu ini. Aku aminkan doa temanku tersayang itu.
"Ti, kapan ya kita punya pacar?" kata temanku Trisa. "Masa kita jomblo terus!!!". "Bosen". "Sabar, Sa....Tuhan lagi membentuk laki- laki yang sepadan buat kita...."ujarku mengatkan hati Trisa dan pastinya hatiku juga.
Aku selalu berpikir optimis. Pasti waktunya akan sangat tepat. Aku percaya ketika seseeorang jatuh cinta pun, Tuhan yang menentukan waktunya (pandangan yang umum), tapi terserahlah, aku yakin akan hal itu. Januari berlalu, Februari bulan penuh hikmah, eh, bulan penuh cinta, itu akhirnya datang. Empat belas Februari ketika kado- kado pink berdataangan (untuk orang yang mendapat), ketika bantal- bantal yang bertuliskan Be mine, Just for You, I Love You, dll, menjadi ikon atas bulan ini, ini bagaikan siksaan bagi kaumku, para Jomblo.
Setelah melewati hari itu, kami menjalani hari- hari kami lebih berat lagi, tugas makin berat, menumpuk bagaikan lemak di tubuh kami, tanpa seseorang yang menyemangati kami, kami lunglai. Namun, hidup harus tetap berjalan, meski tanpa penyemangat kami harus tetap semangat (berlari di bawah hujan).
Maret pun tiba, setelah ucapan selamat ulang tahun yang berasal dari tiap makhluk dari semesta, aku menyadari aku dikelilingi berjuta cinta. "Well... kita harus punya pacar sebelum kita diwisuda nanti" kata Trisa, "kalian mau, ketika yang lain berphoto dengan calonnya, kita hanya menelan air ludah kita???". Kami berpikir tentang kata- kata Trisa yang ada benarnya itu. Tuhan, tolong dong kirimkan malaikat penolong buat kami.
Saat di bis aku dan temanku yang bertahi lalat, Agni, termenung sesaat, di bis itu hanya kami berdua, lagu yang diputarkan itu tanpa kami sadari adalah lagu yang memang benar- benar pas buat kami (mengambil tisu mengusap- usap wajah). "Tuhan kirimkanlah aku... kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya" lagu yang mengekspresikan, memproklamirkan isi hati kami. Kami hanya tertawa, tertawa yang sangat tidak enak.

Rabu, 23 Maret 2011
"Kuliah lagi, kuliah lagi, pulang sore dah" kataku kepada Agni. "Iya nih, Ti, capek kemaren belon abis, yang ini dateng lagi, males banget...". "Mana aku ada presentasi lagi" katanya lagi. Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan, apalagi setelah nilai ujian kami dibagikan, hancurlah hati kami, ingin pulang rasanya.
Pelajaran Sastra dimulai pukul 13.00. hmp, masih lama dari jadwal kuliah selanjutnya, kami menggelar Movie Class, yang digawangi oleh Raju. Film keren, patut diperhitungkan.
Yahhhh.... kelas  Sastra dimulai, temanya tentang C.I.N.T.A. Bagus. Tema yang pas buat kami. Mengapa zaman itu kebanyakan drama mengangkat tema  percintaan yang menyedihkan, penuh darah dan penderitaan.
Well... itu mungkin bagian dari cinta...
Pukul 15.30
Keluar dari kelas, aku bilang dengan dosenku bahwa aku selalu hadir di kkelasnya, tapi tanda tangannya nya kurang satu, aku mengejarnya di koridorku. Aku bahagia sekali, tanda tangannya full, aku senyum- senyum bahagia, setelah itu, aku sangat kaget, sepasang bola mata nan hijau itu mengintaiku, indah sekali, rasanya tak ingin aku melepaskan tatapan dari keindahan ciptaan Tuhan, in luar biasa, aku membuncah- buncah, jantungku berdetak cepat sekali, aku akan meledak mungkin. Mata hijau itu, membuatku hampir kehabisan nafas. Namun, aku harus mampu mengendalikan diri, ini harga diri, jadi kuselesaikan pandanganku itu. Tapi stelahnya, aku putuskaan aku jatuh cinta. Terima kasih ya, Tuhan, ini rasa yang luar biasa