Total Tayangan Halaman

Sabtu, 26 Maret 2011

Valentine on March

 Februari,Valentine, Februari penuh cinta, tapi lebih seru buat pasangan- pasangan kekasih yang sedang dibuai cinta (hueksss), buat para jomblo....? Untuk menghibur diri (padahal hampir putus asa) cinta juga bisa dibagi dan diungkapakan kepada keluarga, kakak, adik, sahabat. Hallo..... ga bosen apa memreka nerima cinta dari gw...?
Yah, beginilah nasib seorang jomblo yang dikelilingi para jomblo juga, kalaupun teman- temanku sudah punyya pacar, pasti pacarnya itu berada jauh dari mereka. Jadi, apa yang kata pepatah tentang sahabat itu memang benar- benar terjadi pada persahabatan yang indah ini.
Tahun 2011 ini, pada awal tahun, ehmm, sekitar awal Februari kemarin, salah satu teman baikku, Anggie, berulang tahun, dalam doanya pun dia memohon "Ya Tuhan, aku harap aku punya pacar di ultahku yang ke-19 ini, tolong ya Tuha (dengan sedikit memaksa). Amin". Luar biasa pikirku, ngebet banget wanita satu ini. Aku aminkan doa temanku tersayang itu.
"Ti, kapan ya kita punya pacar?" kata temanku Trisa. "Masa kita jomblo terus!!!". "Bosen". "Sabar, Sa....Tuhan lagi membentuk laki- laki yang sepadan buat kita...."ujarku mengatkan hati Trisa dan pastinya hatiku juga.
Aku selalu berpikir optimis. Pasti waktunya akan sangat tepat. Aku percaya ketika seseeorang jatuh cinta pun, Tuhan yang menentukan waktunya (pandangan yang umum), tapi terserahlah, aku yakin akan hal itu. Januari berlalu, Februari bulan penuh hikmah, eh, bulan penuh cinta, itu akhirnya datang. Empat belas Februari ketika kado- kado pink berdataangan (untuk orang yang mendapat), ketika bantal- bantal yang bertuliskan Be mine, Just for You, I Love You, dll, menjadi ikon atas bulan ini, ini bagaikan siksaan bagi kaumku, para Jomblo.
Setelah melewati hari itu, kami menjalani hari- hari kami lebih berat lagi, tugas makin berat, menumpuk bagaikan lemak di tubuh kami, tanpa seseorang yang menyemangati kami, kami lunglai. Namun, hidup harus tetap berjalan, meski tanpa penyemangat kami harus tetap semangat (berlari di bawah hujan).
Maret pun tiba, setelah ucapan selamat ulang tahun yang berasal dari tiap makhluk dari semesta, aku menyadari aku dikelilingi berjuta cinta. "Well... kita harus punya pacar sebelum kita diwisuda nanti" kata Trisa, "kalian mau, ketika yang lain berphoto dengan calonnya, kita hanya menelan air ludah kita???". Kami berpikir tentang kata- kata Trisa yang ada benarnya itu. Tuhan, tolong dong kirimkan malaikat penolong buat kami.
Saat di bis aku dan temanku yang bertahi lalat, Agni, termenung sesaat, di bis itu hanya kami berdua, lagu yang diputarkan itu tanpa kami sadari adalah lagu yang memang benar- benar pas buat kami (mengambil tisu mengusap- usap wajah). "Tuhan kirimkanlah aku... kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya" lagu yang mengekspresikan, memproklamirkan isi hati kami. Kami hanya tertawa, tertawa yang sangat tidak enak.

Rabu, 23 Maret 2011
"Kuliah lagi, kuliah lagi, pulang sore dah" kataku kepada Agni. "Iya nih, Ti, capek kemaren belon abis, yang ini dateng lagi, males banget...". "Mana aku ada presentasi lagi" katanya lagi. Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan, apalagi setelah nilai ujian kami dibagikan, hancurlah hati kami, ingin pulang rasanya.
Pelajaran Sastra dimulai pukul 13.00. hmp, masih lama dari jadwal kuliah selanjutnya, kami menggelar Movie Class, yang digawangi oleh Raju. Film keren, patut diperhitungkan.
Yahhhh.... kelas  Sastra dimulai, temanya tentang C.I.N.T.A. Bagus. Tema yang pas buat kami. Mengapa zaman itu kebanyakan drama mengangkat tema  percintaan yang menyedihkan, penuh darah dan penderitaan.
Well... itu mungkin bagian dari cinta...
Pukul 15.30
Keluar dari kelas, aku bilang dengan dosenku bahwa aku selalu hadir di kkelasnya, tapi tanda tangannya nya kurang satu, aku mengejarnya di koridorku. Aku bahagia sekali, tanda tangannya full, aku senyum- senyum bahagia, setelah itu, aku sangat kaget, sepasang bola mata nan hijau itu mengintaiku, indah sekali, rasanya tak ingin aku melepaskan tatapan dari keindahan ciptaan Tuhan, in luar biasa, aku membuncah- buncah, jantungku berdetak cepat sekali, aku akan meledak mungkin. Mata hijau itu, membuatku hampir kehabisan nafas. Namun, aku harus mampu mengendalikan diri, ini harga diri, jadi kuselesaikan pandanganku itu. Tapi stelahnya, aku putuskaan aku jatuh cinta. Terima kasih ya, Tuhan, ini rasa yang luar biasa


Sabtu, 12 Maret 2011

Doa Atira


Seperti biasa, pagi ini masih sama seperti pagi kemarin, aku bangun kesiangan, aku terlalu terburu- buru kali ini. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, aku belum apa- apa, aku harus memutuskan apakah aku harus ke kampus atau lebih baik aku tidak datang karena aku sudah terlambat. Sebenarnya, jadwal kuliahku akan dimulai pukul 08.00 pagi, tapi, perjalanan ke kampusku merupakan serangkaian perjalanan yang panjang. “Baiklah” kataku sambil turun dari tempat tidurku “aku akan kuliah, jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lihat di sepanjang hari ini, pasti banyak kejutan- kejutan yang kecil tapi luar biasa”. Setelah mandi, aku lihat di meja makanku tak ada satupun makanan yang dapat kugunakan sebagai pengganjal perutku. Terpaksalah aku mempersiapkan uang lebih untuk membeli roti atau apalah untuk sarapanku hari ini, aku rada kesal tapi tak apalah ini demi sahabatku dari kecil, perutku atau lebih tepat lambungku.
Kupakai syalku, saat ini, musim gugur, angin bertiup sangat dingin, mungkin karena aku tak terbiasa, karena kampong halamanku adalah negeri yang bersiramkan sinar matahari yang sangat cukup. “Musim gugur ini akan panjang, Terry” seorang anggota security apartemen mengingatkanku “Pakai sarung tanganmu, haru ini akan terasa lebih dingin”. Aku tersenyum ramah melihatnya, dia sangat baik padaku, selama aku tinggal di tempat ini, “Terima kasih, Paman Kurt, aku berangkat ya, sampai ketemu” kataku sambil melambaikan tangan. Dia balas melambaikan tangan sambil mengingatkanku untuk berhati- hati. Ku lihat jam tanganku, hadiah ulang tahun yang ke 20 dari ayahku, 07.10, waw!! Ini waktu yang cukup singkat dari mandi hingga dapat turun ke lantai dasar. Tiba- tiba aku merasa sangat merindukan ayah, ibu, serta kedua bocah ingusan itu, aku juga terbayang akan pohon kelapa di depan rumahku.
Sebenarnya aku ingin naik bis saja, tapi sepertinya aku akan telat terlalu lama jika aku menunggu di halte ini, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi ke stasiun kereta, untuk naik becak, tidak, tentu saja untuk naik kereta api (tidak ada becak di negara ini, entah kenapa). Stasiun kereta, tidak terlalu jauh dari apartemen tempatku tinggal, masih dengan prinsip yang sama, seperti di tanah airku, bahwa konsep kestrategisan tetap jadi kunci utama lakunya apartemen di kalangan masyarakat. Karena aku terbiasa jalan cepat tidak sampai 10 menit aku sampai di stasiun kereta itu, megah, sangat jauh rasanya dari stasiun kereta api di kota asalku.
Sembari aku menunggu waktu keberangkatan, aku melihat seorang gadis kecil, yang memang setiap hari ku lihat, wajahnya banyak bintik- bintik, rambutnya jingga, dia gadis kecil yang berbinar. Gadis kecil itu selalu bahagia (mungkin), sepertinya dia tipe anak yang selalu bersemangat. Aku suka melihatnya. Saat aku ingin mendekatinya, keretaku akan berangkat, jadi masuklah aku ke dalam kereta itu, ramai sekali, semuanya hendak pergi dengan beragam niat. Dua puluh menit, aku tiba di daerah kampusku. Tidak jauh bedalah dengan fasilitas kampusku yang dulu, aku tidak tahu apa nama kereta yang baru saja aku tumpangi, tapi aku selalu ingat dengan si “Seruni” kereta api yang mengangkut mahasiswa dari kabupaten tempatku berkuliah ke kota madya tempatku tinggal.
Aku berjalan, bahkan berlari, karena 10 menit lagi kelas akan dimulai, aku sangat terburu- buru sehingga aku melewatkan wajah yang selama ini aku selalu ingin aku lihat. Tapi taak apalah, nanti siang aku akan melihatnya.
 Tepat sekali, 08.05, aku tiba di kelas, teman- temanku dengan perasaan cemas berbalut heran bertanya “ Mengapa kali ini siang sekali?”, aku menjawab dengan santai “Aku hampir lupa bangun” kataku ngos- ngosan. “Bwahahahahaha…. “ Nigel tertawa “Orang macam apa kau ini, lupa bangun, benar- benar aneh”. Aku hanya mengernyitkan bibirku “ Memangnya kau tidak pernah terlambat karena bangun kesiangan ya?” tanyaku. “Tentu saja itu sering terjadi, tapi aku tidak lupa cara bangun tidur, Nona” katanya. “ Haaaa…. Itu sama saja, Nigel, itu lidak lebih baik dari pada alasan Terry hari ini, lagi pula kau tidak terlambat hanya hari ini saja, jangan bangga” kata Gwen sii gadis cantik berambut pirang membelaku. Roxanne yang begitu langsing serta si mungil Shannon tertawa melihat Gwen yang jarang bicara, akhirnya bicara sepanjang itu.
Akhirnya dosen itu masuk kelas, setelah, kurang lebih dua jam kami belajar dengannya, kelas pun berakhir, mmata kuliah yang indah, tentang sastra. Aku suka kata- kata, begitu mempesona, kata- kata selalu membuat aku bahkan beberapa orang mampu berimajinasi. Kadang imajinasi yang liar.
Aku pulang, bersama Gwen, Roxanne, Shannon, serta Zeke dan Chen, dua pemuda warga negara Amerika, tapi Chen adalah seorang keturunan China yang tinggal di Amerika dari kecil, karena karir ayah dan ibunya. Seperti biasa, karena ini awal bulan November, udara masih saja terlau dingin untukku.
Dalam perjalanan kami ke toko perlengkapan rumah tangga itu, kami banyak bercerita lalu Zeke bertanya “ Bagaimana perasaan kalian dapat berkuliah di sini?”. Gwen dan Shannon menjawab hampir bersamaan “ Aku senang sekali, ini membuatku bangga”. “Begitupun  aku” jawab Chen, “Kalau kau Terry?”. “Aku juga sangat senang, senang sekali, ini mimpiku dan akhirnya itu jadi kenyataan” kataku. Kami melihat kea rah Roxanne, lalu di menjawab “ Aku juga senang, aku senag bertemu kalian, tapi  aku hanya di negaraku saja, walau kuliah strata 1, aku berkuliah di negeri orang”. Zeke tertawa dan berkata “ Itulah hidup, teman- teman tidak selamanya kita berjaya”. Kami semua hanya tertawa sambil melihat wajah Roxanne yang kesal terhadap Zeke.
Setelah belanja ini dan itu untuk keperluan satu bulan, kami berenam berpisah dan aku kembali melewati jalan yang sama, aku melewati kedai es krim, dan melihat gadis kecil itu, dia melepaskan sepatunya, karena sudah rusak parah, ia berhenti di depan toko coklat itu yang bertuliskan “HARAP KENAKAN SEPATU ANDA” dari kejauhan aku melihatnya, aku berjalan lebih cepat agar aku bisa membantu gadis kecil idolaku itu, dia tampak putus asa, nampaknya ia sangat menginginkan coklat seharga £2. Aku berpikir mahalnya coklat di negeri ini, (tapi memang sangat enak sih) semakin cepatlah aku berjalan, tapi tiba- tiba, aku terhenti karena wajah itu, wajah yang mengalihkan duniaku dan la\agi kali ini dia tersenyum padaku, aku terasa beku, bukan karena angin musim gugur, tapi karena senyum itu, lalu handphone-ku berbunyi, ini hanya ulah iseng Chen dan Zeke, yang seringkali mengirimkan SMS tidak jelas, persis seperti teman kuliah ku dulu Wawan.
Aku tersadar, saat aku mendekat ke arah gadis kecil idolaku itu, tiba ada seorang laki- laki berbadan besar, dengan perut Bang Bajuri, mendekat ke arahnya, aku sudah membayangkan hal- hal buruk akan menimpa si rambut jingga itu. Namun “Hai nak…” kata Bapak itu,” Apa yang kau lakukan di sini?” Aku ingin membeli permen coklat, tapi sepatuku ini tidak bisa ku pakai lagi, jadi sekarang aku dalam kondisi bingung” Si Bapak 40-45 tahun (menurut perkiraanku) itu tersenyum dan berkata “ Pakailah sepatuku dulu belilah coklat-mu, memang kebesaran tapi setidaknya kau menggunakan sepatu untuk bisa masuk ke dalam, aku akan menunggu di sini lagi pula aku sedang tidak terburu- buru”.. Gadis kecil itu sangat bersukacita ia berbinar lagi , dipakailah sepatu besar di kaki mungilnya itu, seteelah itu ia kembali lagi dan mengucapkan terima kasih katanya “ Terima kasih , tuan. Anda baik sekali, Anda seperti seorang malaikat, apa Anda mau mencicipi permen coklat ini?” Si Bapak itu tersenyum senag dan puas “ Tidak terima kasih, makanlah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa”
Aku lega, ternyata laki- laki paruh baya itu, orang yang berhati lembut, tidak terlalu plin- plan sepertiku. Bahkan dia lebih baik dari padaku, dia menetapkan hatinya  untuk menolong bocah itu tanpa peduli apa yang mungkinorang pikirkan tentang dia, saat selama 15 menit ia hanya memakai kaos kakinya di tengah dinginnya musim gugur yang panjang ini. ”Musim gugur yang panjang???? Oh, tidak….. Gadis  itu, bukankah sepatunya rusak parah, tidak bisa dipakai lagi” aku berbicara sendiri dengan wajah sangat cemas. Lalu aku mengejar gadis cilik itu, lalu aku berhenti tepat di sebelahnya. Dia tersenyum ramah dan bertanya kepadaku “ Hai, Nona, apakah Anda sangat terburu- buru? Mengapa lari- lari?” .       “ Tidak terlalu, aku hanya ingin berjalan di sampingmu saja”. Matanya yang hijau- kelabu terbelalak. ”Jalan bersamaku?. Apakah Anda mengenalku?”. “Tidak” kataku sambil tersenyum “ Sebentar. Kakimu, apa tidak kediinginan?”. “ Tentu saja ini dingin sekali, tapi apa boleh buat sepatuku ini rusak dan aku tidak bisa membeli untu gantinya” jawabnya enteng. Ku pikir aku masih punya uang yang cuukup untu bulan ini, meskipun ku pakai untuk membelikannya “ Ayo, karena aku menganggapmu teman, aku akan membelikanmu sepatu, mungkin tidak terlalu bagus, tapi lumayanlah untuk mengganti sepatumu itu”.
“Aku beli yang ini ya” sambil menyerahkan uang dan sepatu pilihan gadis kecil itu ke kasir. “Terima kasih” kata si kasir itu. “Nona, terima kasih ya, meskipun aku tidak mengenalmu, tapi kau sudah menolongku, kau sangat baik, hatimu seputih salju”. Aku agak terkejut dengan kata- kata itu “ Dari mana kau belajar kata- kata indah itu..?”. Aku sering mendengar tetanggaku yang berusia 15 tahun membaca itu, aku tidak begitu paham, tapi kedengarannya itu bagus”. Jawaban yang lucu . “ Siapa namamu?” tanyaku penasaran. “Atira Wilson, nama Anda?” dia balik bertanya. “Terry . Terry Ulani. Aku bukan dari Eropa ataupun Amerika jadi aku tidak punya nama belakang dari ayah seperti orang- orang sini pada umumnya” jawabku sambil menjelaskan agar dia tidak bingung. “ Terry” kata Atira “itu informasi yang sangat lengkap, kau menjawabnya, bahkan, sebelum aku bertanya tentang itu. Apakah kau bersekolah di gedung yang besar itu? Sambil menunjuk ke arah kampusku. “Ya, Atira. Oh, iya… Namamu sangat bagus, pasti orang tua-mu sangat pintar…” aku bilang kepadanya. “Bagus ya…? Tapi banyak orang bilang namaku itu sangat aneh, tidak sering terdengar, seperti nama seorang perempuan yang suka mengubah orang menjadi kodok” katanya sambil cemberut. “Wah.. orang yang bilang seperti itu. Pasti tidak tahu banyak tentang kata- kata. Atira itu artinya doa. Aku sangat suka kata itu. Berapa usiamu, Atira? Dan, dimana kau tinggal, karena kau sering melihatmu di stasiun kereta. “ Aku senang, kau suka namaku, akrena kau adalah orang pertama yang sepertinya menyayangiku. Aku adalah yatim- piatu, Terry, aku juga tidak punya saudara, aku tinggal di rumah, sebuah keluarga yang sangat ramai, setiap hari mereka selalu rebut, mereka akan menyalakan TV dengan volume yang sebesar- besarnya, itu sangat mengangguku, tapi aku sangat berterima kasih karrena mereka sudah membesarkan aku. Aku tinggal di daerah Bollingbroke, kalau ada waktu mampirlah ke rumahku. Tapi, Terry, apa doa itu..? Aku sering mendengar nenek yang tinggal di seberang rumahku, dia bilang dia berdoa, lalu seganya akan jadi baik- baik saja”.
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan si gadis kecil superior ini. Untunglah, hanya ada satu mata kuliah hari ini.  Aku mencoba menjawab “Atira, doa itu adalah saat- saat di mana kau berbicara kepada Tuhan, seperti halnya sekarang kau berbicara kepadaku, tapi dinamakan doa karena itu adalh pembicaraanmu dengan Tuhan. Benar kata nenek itu, ketika kau berdoa semuanya akan baik- baik saja, bahkan berdoa akan membuatmu lega dan merasa berkawan ketika kau merasa sendirian.”
“Siapa itu Tuhan…? Mengapa kita harus berdoa kepadanya buka kepada yang lain?” tanyanya lagi. “Tuhan itu adalah Orang  yangmenciptakan alam semesta ini, mengatur musim, Dia juga yang membuat pohon- pohon ini, ketika hari mulaai gelap, ia juga sudah menyiapkan waktu yang tepat agar matahari datang lagi bersinar di atas bumi ini, supaya kita tidak terlalu lama dalm gelap” jawabku apa adanya. “Apa Tuhan itu baik?” Atira bertanya. Mengapa dia tidak tahu dengan Tuhan ya..? pikirku dalam hati. “ Tentu saja Tuhan itu baik, kalau Ia tidak baik mana mungkinkau bisa meraasakan dinginnya musim dingin ataupun gugur ini, hangatnya matahari musim panas, atau warna- warni muism semi. Kau masih bisa merasakan senang atau sedih kan?” tanyaku, disertai anggukan Atira idolaku, yang ternyata harus aku ajari tentang siapa Tuhan itu, ya, mungkin, seperti saat Sekolah Minggu dululah.
 Kami ada di stasiun kereta saat ini, menunggu sebentar- tidak terlalu lama, kereta yang menuju daerah kami datang, aku duduk di sebelah Atira. “Rambutmu panjang dan bagus” kataku kepadanya  “Matamu juga, aku suka itu”. “Kau menyukainya Terry?” katanya tidak percaya, “ahhh.. kau orang pertama yang bilang rambut ini bagus, mereka, anak- anak dari keluarga Evans sering mengejekku karena rambutku yang aneh, menurut mereka. Ron, yang nakal. Buck, yang usil. Jeanie yang suka marah- marah. Gladys- Gabriella, sepasang kembar yang selalu bertengkar. Mereka sering meledekku karena rambutku, panjang seperti penyihir, zaman dulu. Kadang- kadang aku merindukan ayah dan ibuku, apalagi ketika aku memiliki cita- cita, dan mereka seolah meremehkannya, kadang mereka mencercaku karena mimpiku itu, padahal aku rasa itu kan tidak menggangu mereka dan aku rasa itu tidak salah”. “Ya, aku pernah mengalami hal serupa, seseorang pernah merendahkanku saat aku menyebutkan universitas mana yang akan aku tuju untuk program sarjanaku saat itu, tapi karena aku berdoa, maka Tuhan yang baik, menolongku, sehingga aku mampu duduk di universitas yang aku sebutkan di depan orang itu.” Kataku supaya ia tidak menyerah karena lingkungna yang agak keras dan tidak terlalu terpelajar. “ Terry kapan dan dimana aku bisa berdoa?” tanyanya. “ Kau bisa berdoa kapan saja Atira, saat Kau senang, sedih, kau juga bisa berbagi cerita dengan-Nya, Dia tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, saat kau berdoa lipat tanganmu dan berlututlah, bicara pada-Nya, Dia itu Bapa-mu” kataku sambil tersenyum.
“Dia tidak pernah tidur katamu, dan tidak lelah?  tanyanya keheranan, “ Apa dia terlalu sibuk hingga tak ada waktu tidur lagi? Kasihan Dia!!” dia berkata sangat sedih. “ Ya, bisa dibilang Dia sangat sibuk, Dia harus mendengar doaku, doamu, doa wanita itu, jika ia berdoa, tapi walau kau tak berdoa, sebenarnya, Dia selalu memperhatikanmu” kataku. “ Bahkan, saat ini dia sedang memperhatikan kita, menjaga kita agar kita tidak jatuh dan, ya,, agar tidak ada orang yang berbuat jahat kepada kita” tambahku.
Kami tiba di daerah tempat kami tinggal, Bollingbroke, dan aku menunjukkan gereja “Kau bisa berdoa di sana juga, kapanpun kau mau”. “Apa kau mau menemaniku saat ini, Terry?” tanyanya dengan wajah penuh harap. “Baiklah, aku mau, ayo..!
Kudengar doa Atira terasa lucu tapi begitu jujur, aku ingin menangis juga karena kata- kata yang begitu polos ku dengar. Ini doanya..
“Selamat sore, Tuhan. Aku Atira. Aku mungkin baru hari ini mengenal-Mu, tapi sebenarnya aku sering mendengar tentang-Mu, tapi tidak ada yang punya cukup waktu untuk menjelaskan tentang-Mu, untunglah aku bertemu dengan Terry, dia juga baru ku kenal, tapi aku merasa dia sangat baik. Dia bilang aku bisa menjadi sahabat-Mu, apa Kau bersedia? Karena Kau sangat baik, aku percaya Kau mau jadi temanku. Tuhan, aku tahu Kau melihat semua yang sudah aku alami dalam hidupku ini,  saat ini aku tujuh tahun, tapi rasanya hidupku ini terlalu sulit, tidak seperti teman- temanku yang lain. Aku mohon Tuhan, Engkau, kiranya membuat hidupku lebih mudah agar semuanya bisa berjalan baik- baik saja. Buatlah aku lebih kuat jika semuanya tidak bisa menjadi lebih mudah. Tuhan, terima kasih karena Kau sudah mengirimkan teman buatku, tentu saja, Terry, meskipun dia lebih tua dariku, tapi, terima kasih, Tuhan. Satu hal lagi Tuhan, jangan terlalu lelah, Kau harus jaga kesehatan-Mu, karena Kau akan sangat sibuk, karena yang berdoa pada-Mu hari ini bertambah, yaitu, aku, Atira. Terima kasih Tuhan, selamat sore”.
Aku tersenyum, melihat wajahnya yang sangat letih namun berbinar. Dia nampak lebih kuat dari sebelumnya. Kami pulang ke rumah kami masing- masing, dia bilang dia tidak bisa main ke rumahku hari ini, karena hari suudah sore, dan tentu saja banyak tugas yang menantinya.
Saat waktunya aku naik ke tempat tidur, aku memikirkan kata- kata dalam doa pertama Atira, ya, dia minta jalannya dimudahkan, tapi ia tidak terlalu memaksakan agar itu terjadi tapi sii gadis rambut jingga itu bilang agar ia dikuatkan untuk menjalani hidupnya yang sangat berat. Hari ini aku belajar bahwa, jalan yang mungkin kita hadapi mungkin bukanlah jalan yang rata dan selalu aman tapi percayalah bahwa ada Tangan yang Kuat yang menuntun hidup ini agar kita kuat menjalaninya.

Doa Atira


Seperti biasa, pagi ini masih sama seperti pagi kemarin, aku bangun kesiangan, aku terlalu terburu- buru kali ini. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, aku belum apa- apa, aku harus memutuskan apakah aku harus ke kampus atau lebih baik aku tidak datang karena aku sudah terlambat. Sebenarnya, jadwal kuliahku akan dimulai pukul 08.00 pagi, tapi, perjalanan ke kampusku merupakan serangkaian perjalanan yang panjang. “Baiklah” kataku sambil turun dari tempat tidurku “aku akan kuliah, jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lihat di sepanjang hari ini, pasti banyak kejutan- kejutan yang kecil tapi luar biasa”. Setelah mandi, aku lihat di meja makanku tak ada satupun makanan yang dapat kugunakan sebagai pengganjal perutku. Terpaksalah aku mempersiapkan uang lebih untuk membeli roti atau apalah untuk sarapanku hari ini, aku rada kesal tapi tak apalah ini demi sahabatku dari kecil, perutku atau lebih tepat lambungku.
Kupakai syalku, saat ini, musim gugur, angin bertiup sangat dingin, mungkin karena aku tak terbiasa, karena kampong halamanku adalah negeri yang bersiramkan sinar matahari yang sangat cukup. “Musim gugur ini akan panjang, Terry” seorang anggota security apartemen mengingatkanku “Pakai sarung tanganmu, haru ini akan terasa lebih dingin”. Aku tersenyum ramah melihatnya, dia sangat baik padaku, selama aku tinggal di tempat ini, “Terima kasih, Paman Kurt, aku berangkat ya, sampai ketemu” kataku sambil melambaikan tangan. Dia balas melambaikan tangan sambil mengingatkanku untuk berhati- hati. Ku lihat jam tanganku, hadiah ulang tahun yang ke 20 dari ayahku, 07.10, waw!! Ini waktu yang cukup singkat dari mandi hingga dapat turun ke lantai dasar. Tiba- tiba aku merasa sangat merindukan ayah, ibu, serta kedua bocah ingusan itu, aku juga terbayang akan pohon kelapa di depan rumahku.
Sebenarnya aku ingin naik bis saja, tapi sepertinya aku akan telat terlalu lama jika aku menunggu di halte ini, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi ke stasiun kereta, untuk naik becak, tidak, tentu saja untuk naik kereta api (tidak ada becak di negara ini, entah kenapa). Stasiun kereta, tidak terlalu jauh dari apartemen tempatku tinggal, masih dengan prinsip yang sama, seperti di tanah airku, bahwa konsep kestrategisan tetap jadi kunci utama lakunya apartemen di kalangan masyarakat. Karena aku terbiasa jalan cepat tidak sampai 10 menit aku sampai di stasiun kereta itu, megah, sangat jauh rasanya dari stasiun kereta api di kota asalku.
Sembari aku menunggu waktu keberangkatan, aku melihat seorang gadis kecil, yang memang setiap hari ku lihat, wajahnya banyak bintik- bintik, rambutnya jingga, dia gadis kecil yang berbinar. Gadis kecil itu selalu bahagia (mungkin), sepertinya dia tipe anak yang selalu bersemangat. Aku suka melihatnya. Saat aku ingin mendekatinya, keretaku akan berangkat, jadi masuklah aku ke dalam kereta itu, ramai sekali, semuanya hendak pergi dengan beragam niat. Dua puluh menit, aku tiba di daerah kampusku. Tidak jauh bedalah dengan fasilitas kampusku yang dulu, aku tidak tahu apa nama kereta yang baru saja aku tumpangi, tapi aku selalu ingat dengan si “Seruni” kereta api yang mengangkut mahasiswa dari kabupaten tempatku berkuliah ke kota madya tempatku tinggal.
Aku berjalan, bahkan berlari, karena 10 menit lagi kelas akan dimulai, aku sangat terburu- buru sehingga aku melewatkan wajah yang selama ini aku selalu ingin aku lihat. Tapi taak apalah, nanti siang aku akan melihatnya.
 Tepat sekali, 08.05, aku tiba di kelas, teman- temanku dengan perasaan cemas berbalut heran bertanya “ Mengapa kali ini siang sekali?”, aku menjawab dengan santai “Aku hampir lupa bangun” kataku ngos- ngosan. “Bwahahahahaha…. “ Nigel tertawa “Orang macam apa kau ini, lupa bangun, benar- benar aneh”. Aku hanya mengernyitkan bibirku “ Memangnya kau tidak pernah terlambat karena bangun kesiangan ya?” tanyaku. “Tentu saja itu sering terjadi, tapi aku tidak lupa cara bangun tidur, Nona” katanya. “ Haaaa…. Itu sama saja, Nigel, itu lidak lebih baik dari pada alasan Terry hari ini, lagi pula kau tidak terlambat hanya hari ini saja, jangan bangga” kata Gwen sii gadis cantik berambut pirang membelaku. Roxanne yang begitu langsing serta si mungil Shannon tertawa melihat Gwen yang jarang bicara, akhirnya bicara sepanjang itu.
Akhirnya dosen itu masuk kelas, setelah, kurang lebih dua jam kami belajar dengannya, kelas pun berakhir, mmata kuliah yang indah, tentang sastra. Aku suka kata- kata, begitu mempesona, kata- kata selalu membuat aku bahkan beberapa orang mampu berimajinasi. Kadang imajinasi yang liar.
Aku pulang, bersama Gwen, Roxanne, Shannon, serta Zeke dan Chen, dua pemuda warga negara Amerika, tapi Chen adalah seorang keturunan China yang tinggal di Amerika dari kecil, karena karir ayah dan ibunya. Seperti biasa, karena ini awal bulan November, udara masih saja terlau dingin untukku.
Dalam perjalanan kami ke toko perlengkapan rumah tangga itu, kami banyak bercerita lalu Zeke bertanya “ Bagaimana perasaan kalian dapat berkuliah di sini?”. Gwen dan Shannon menjawab hampir bersamaan “ Aku senang sekali, ini membuatku bangga”. “Begitupun  aku” jawab Chen, “Kalau kau Terry?”. “Aku juga sangat senang, senang sekali, ini mimpiku dan akhirnya itu jadi kenyataan” kataku. Kami melihat kea rah Roxanne, lalu di menjawab “ Aku juga senang, aku senag bertemu kalian, tapi  aku hanya di negaraku saja, walau kuliah strata 1, aku berkuliah di negeri orang”. Zeke tertawa dan berkata “ Itulah hidup, teman- teman tidak selamanya kita berjaya”. Kami semua hanya tertawa sambil melihat wajah Roxanne yang kesal terhadap Zeke.
Setelah belanja ini dan itu untuk keperluan satu bulan, kami berenam berpisah dan aku kembali melewati jalan yang sama, aku melewati kedai es krim, dan melihat gadis kecil itu, dia melepaskan sepatunya, karena sudah rusak parah, ia berhenti di depan toko coklat itu yang bertuliskan “HARAP KENAKAN SEPATU ANDA” dari kejauhan aku melihatnya, aku berjalan lebih cepat agar aku bisa membantu gadis kecil idolaku itu, dia tampak putus asa, nampaknya ia sangat menginginkan coklat seharga £2. Aku berpikir mahalnya coklat di negeri ini, (tapi memang sangat enak sih) semakin cepatlah aku berjalan, tapi tiba- tiba, aku terhenti karena wajah itu, wajah yang mengalihkan duniaku dan laagi kali ini dia tersenyum padaku, aku terasa beku, bukan karena angin musim gugur, tapi karena senyum itu, lalu handphone-ku berbunyi, ini hanya ulah iseng Chen dan Zeke, yang seringkali mengirimkan SMS tidak jelas, persis seperti teman kuliah ku dulu Wawan.
Aku tersadar, saat aku mendekat ke arah gadis kecil idolaku itu, tiba ada seorang laki- laki berbadan besar, dengan perut Bang Bajuri, mendekat ke arahnya, aku sudah membayangkan hal- hal buruk akan menimpa si rambut jingga itu. Namun “Hai nak…” kata Bapak itu,” Apa yang kau lakukan di sini?” Aku ingin membeli permen coklat, tapi sepatuku ini tidak bisa ku pakai lagi, jadi sekarang aku dalam kondisi bingung” Si Bapak 40-45 tahun (menurut perkiraanku) itu tersenyum dan berkata “ Pakailah sepatuku dulu belilah coklat-mu, memang kebesaran tapi setidaknya kau menggunakan sepatu untuk bisa masuk ke dalam, aku akan menunggu di sini lagi pula aku sedang tidak terburu- buru”.. Gadis kecil itu sangat bersukacita ia berbinar lagi , dipakailah sepatu besar di kaki mungilnya itu, seteelah itu ia kembali lagi dan mengucapkan terima kasih katanya “ Terima kasih , tuan. Anda baik sekali, Anda seperti seorang malaikat, apa Anda mau mencicipi permen coklat ini?” Si Bapak itu tersenyum senag dan puas “ Tidak terima kasih, makanlah, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa”
Aku lega, ternyata laki- laki paruh baya itu, orang yang berhati lembut, tidak terlalu plin- plan sepertiku. Bahkan dia lebih baik dari padaku, dia menetapkan hatinya  untuk menolong bocah itu tanpa peduli apa yang mungkinorang pikirkan tentang dia, saat selama 15 menit ia hanya memakai kaos kakinya di tengah dinginnya musim gugur yang panjang ini. ”Musim gugur yang panjang???? Oh, tidak….. Gadis  itu, bukankah sepatunya rusak parah, tidak bisa dipakai lagi” aku berbicara sendiri dengan wajah sangat cemas. Lalu aku mengejar gadis cilik itu, lalu aku berhenti tepat di sebelahnya. Dia tersenyum ramah dan bertanya kepadaku “ Hai, Nona, apakah Anda sangat terburu- buru? Mengapa lari- lari?” .       “ Tidak terlalu, aku hanya ingin berjalan di sampingmu saja”. Matanya yang hijau- kelabu terbelalak. ”Jalan bersamaku?. Apakah Anda mengenalku?”. “Tidak” kataku sambil tersenyum “ Sebentar. Kakimu, apa tidak kediinginan?”. “ Tentu saja ini dingin sekali, tapi apa boleh buat sepatuku ini rusak dan aku tidak bisa membeli untu gantinya” jawabnya enteng. Ku pikir aku masih punya uang yang cuukup untu bulan ini, meskipun ku pakai untuk membelikannya “ Ayo, karena aku menganggapmu teman, aku akan membelikanmu sepatu, mungkin tidak terlalu bagus, tapi lumayanlah untuk mengganti sepatumu itu”.
“Aku beli yang ini ya” sambil menyerahkan uang dan sepatu pilihan gadis kecil itu ke kasir. “Terima kasih” kata si kasir itu. “Nona, terima kasih ya, meskipun aku tidak mengenalmu, tapi kau sudah menolongku, kau sangat baik, hatimu seputih salju”. Aku agak terkejut dengan kata- kata itu “ Dari mana kau belajar kata- kata indah itu..?”. Aku sering mendengar tetanggaku yang berusia 15 tahun membaca itu, aku tidak begitu paham, tapi kedengarannya itu bagus”. Jawaban yang lucu . “ Siapa namamu?” tanyaku penasaran. “Atira Wilson, nama Anda?” dia balik bertanya. “Terry . Terry Ulani. Aku bukan dari Eropa ataupun Amerika jadi aku tidak punya nama belakang dari ayah seperti orang- orang sini pada umumnya” jawabku sambil menjelaskan agar dia tidak bingung. “ Terry” kata Atira “itu informasi yang sangat lengkap, kau menjawabnya, bahkan, sebelum aku bertanya tentang itu. Apakah kau bersekolah di gedung yang besar itu? Sambil menunjuk kea rah kampusku. “Ya, Atira. Oh, iya… Namamu sangat bagus, pasri orang tua-mu sangat pintar…” aku bilang kepadanya. “Bagus ya…? Tapi banyak orang bilang namaku itu sangat aneh, tidak sering terdengar, seperti nama seorang perempuan yang suka mengubah orang menjadi kodok” katanya sambil cemberut. “Wah.. orang yang bilang seperti itu. Pasti tidak tahu banyak tentang kata- kata. Atira itu artinya doa. Aku sangat suka kata itu. Berapa usiamu, Atira? Dan, dimana kau tinggal, karena kau sering melihatmu di stasiun kereta. “ Aku senang, kau suka namaku, akrena kau adalah orang pertama yang sepertinya menyayangiku. Aku adalah yatim- piatu, Terry, aku juga tidak punya saudara, aku tinggal di rumah, sebuah keluarga yang sangat ramai, setiap hari mereka selalu rebut, mereka akan menyalakan TV dengan volume yang sebesar- besarnya, itu sangat mengangguku, tapi aku sangat berterima kasih karrena mereka sudah membesarkan aku. Aku tinggal di daerah Bollingbroke, kalau ada waktu mampirlah ke rumahku. Tapi, Terry, apa doa itu..? Aku sering mendengar nenek yang tinggal di seberang rumahku, dia bilang dia berdoa, lalu seganya akan jadi baik- baik saja”.
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan si gadis kecil superior ini. Untunglah, hanya ada satu mata kuliah hari ini.  Aku mencoba menjawab “Atira, doa itu adalah saat- saat di mana kau berbicara kepada Tuhan, seperti halnya sekarang kau berbicara kepadaku, tapi dinamakan doa karena itu adalh pembicaraanmu dengan Tuhan. Benar kata nenek itu, ketika kau berdoa semuanya akan baik- baik saja, bahkan berdoa akan membuatmu lega dan merasa berkawan ketika kau merasa sendirian.”
“Siapa itu Tuhan…? Mengapa kita harus berdoa kepadanya buka kepada yang lain?” tanyanya lagi. “Tuhan itu adalah Orang  yangmenciptakan alam semesta ini, mengatur musim, Dia juga yang membuat pohon- pohon ini, ketika hari mulaai gelap, ia juga sudah menyiapkan waktu yang tepat agar matahari datang lagi bersinar di atas bumi ini, supaya kita tidak terlalu lama dalm gelap” jawabku apa adanya. “Apa Tuhan itu baik?” Atira bertanya. Mengapa dia tidak tahu dengan Tuhan ya..? pikirku dalam hati. “ Tentu saja Tuhan itu baik, kalau Ia tidak baik mana mungkinkau bisa meraasakan dinginnya musim dingin ataupun gugur ini, hangatnya matahari musim panas, atau warna- warni muim semi. Kau masih bisa merasakan senang atau sedih kan?” tanyaku, disertai anggukan Atira idolaku, yang ternyata harus aku ajari tentang siapa Tuhan itu, ya, mungkin, seperti saat Sekolah Minggu dululah.
 Kami ada di stasiun kereta saat ini, menunggu sebentar- tidak terlalu lama, kereta yang menuju daerah kami datang, aku duduk di sebelah Atira. “Rambutmu panjang dan bagus” kataku kepadanya  “Matamu juga, aku suka itu”. “Kau menyukainya Terry?” katanya tidak percaya, “ahhh.. kau orang pertama yang bilang rambut ini bagus, mereka, anak- anak dari keluarga Evans sering mengejekku karena rambutku yang aneh, menurut mereka. Ron, yang nakal. Buck, yang usil. Jeanie yang suka marah- marah. Gladys- Gabriella, sepasang kembar yang selalu bertengkar. Kadang- kadang aku merindukan ayah dan ibuku, apalagi ketika aku memiliki cita- cita, dan mereka seolah meremehkannya, kadang mereka mencercaku karena mimpiku itu, padahal aku rasa itu kan tidak menggangu mereka”. “Ya, aku pernah mengalami hal serupa, seseorang pernah merendahkanku saat aku menyebutkan universitas mana yang akan aku tuju untuk program sarjanaku saat itu, tapi karena aku berdoa, maka Tuhan yang baik, menolongku, sehingga aku mampu duduk di universitas yang aku sebutkan di depan orang itu.” Kataku supaya ia tidak menyerah karena lingkungna yang agak keras dan tidak terlalu terpelajar. “ Terry kapan dan dimana aku bisa berdoa?” tanyanya. “ Kau bisa berdoa kapan saja Atira, saat Kau senang, sedih, kau juga bisa berbagi cerita dengan-Nya, Dia tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, saat kau berdoa lipat tanganmu dan berlututlah, bicara pada-Nya, Dia itu Bapa-mu” kataku sambil tersenyum.
“Dia tidak pernah tidur katamu, dan tidak lelah?  tanyanya keheranan, “ Apa dia terlalu sibuk hingga tak ada waktu tidur lagi? Kasihan Dia!!” dia berkata sangat sedih. “ Ya, bisa dibilang Dia sangat sibuk, Dia harus mendengar doaku, doamu, doa wanita itu, jika ia berdoa, tapi walau kau tak berdoa, sebenarnya, Dia selalu memperhatikanmu” kataku. “ Bahkan, saat ini dia sedang memperhatikan kita, menjaga kita agar kita tidak jatuh dan, ya,, agar tidak ada orang yang berbuat jahat kepada kita” tambahku.
Kami tiba di daerah tempat kami tinggal, Bollingbroke, dan aku menunjukkan gereja “Kau bisa berdoa di sana juga, kapanpun kau mau”. “Apa kau mau menemaniku saat ini, Terry?” tanyanya dengan wajah penuh harap. “Baiklah, aku mau, ayo..!
Kudengar doa Atira terasa lucu tapi begitu jujur, aku ingin menangis juga karena kata- kata yang begitu polos ku dengar. Ini doanya..
“Selamat sore, Tuhan. Aku Atira. Aku mungkin baru hari ini mengenal-Mu, tapi sebenarnya aku sering mendengar tentang-Mu, tapi tidak ada yang punya cukup waktu untuk menjelaskan tentang-Mu, untunglah aku bertemu dengan Terry, dia juga baru ku kenal, tapi aku merasa dia sangat baik. Dia bilang aku bisa menjadi sahabat-Mu, apa Kau bersedia? Karena Kau sangat baik, aku percaya Kau mau jadi temanku. Tuhan, aku tahu Kau melihat semua yang sudah aku alami dalam hidupku ini,  saat ini aku tujuh tahun, tapi rasanya hidupku ini terlalu sulit, tidak seperti teman- temanku yang lain. Aku mohon Tuhan, Engkau, kiranya membuat hidupku lebih mudah agar semuanya bisa berjalan baik- baik saja. Buatlah aku lebih kuat jika semuanya tidak bisa menjadi lebih mudah. Tuhan, terima kasih karena Kau sudah mengirimkan teman buatku, tentu saja, Terry, meskipun dia lebih tua dariku, tapi, terima kasih, Tuhan. Satu hal lagi Tuhan, jangan terlalu lelah, Kau harus jaga kesehatan-Mu, karena Kau akan sangat sibuk, karena yang berdoa pada-Mu hari ini bertambah, yaitu, aku, Atira. Terima kasih Tuhan, selamat sore”.
Aku tersenyum, melihat wajahnya yang sangat letih namun berbinar. Dia nampak lebih kuat dari sebelumnya. Kami pulang ke rumah kami masing- masing, dia bilang dia tidak bisa main ke rumahku hari ini, karena hari suudah sore, dan tentu saja banyak tugas yang menantinya.
Saat waktunya aku naik ke tempat tidur, aku memikirkan kata- kata dalam doa pertama Atira, ya, dia minta jalannya dimudahkan, tapi ia tidak terlalu memaksakan agar itu terjadi tapi sii gadis rambut jingga itu bilang agar ia dikuatkan untuk menjalani hidupnya yang sangat berat. Hari ini aku belajar bahwa, jalan yang mungkin kita hadapi mungkin bukanlah jalan yang rata dan selalu aman tapi percayalah bahwa ada Tangan yang Kuat yang menuntun hidup ini agar kita kuat menjalaninya.

Kamis, 03 Maret 2011

Tombak dan Kaos Dalam Bintang


Ini kisahku dengan empat orang sahabatku. Dolfi, Wawan, Natce, Nisun, dan aku sendiri. Suatu hari ketika kami menunggu mata kuliah selanjutnya, seperti biasa aku dan mereka menunggu di lantai atas, kami membujuk petugas lab untuk meminjamkan salah satu alat musik kepada kami. Kami sudah sering melakukan hal ini, kami bernyanyi di ruang itu dan kami merasa kami merasa seolah- olah kami adalah anggota Glee Club. Namun, dau hari belakangan ini, setiap kami ingin ke lab, ada-ada saja halangannya. Si Dolfi yang ngambek karena aku mendahulukan belajar dari pada ndengerin dia yang kadang ga jelas dan dan isi hatinya sulit ditebak, untuk membujuknya agar mau lagi, terpaksa kami harus memuji- mujinya setinggi lagit.
" Ayo dong Dolfi, ini demi ppersahabatan kita..." kataku membujuknya.
" Ah.. ga mau, kamu aja lebih memilih si penggesah itu dari pada aku yang kau bilang sahabatmu..." kata si Dolfi
" Ih.... ngapa sih si Dolfi, tingkahnya kayak banci murahan aja kalo kayak gitu! AYOO CEPATTTTT!!!!! Natce memaksanya
" Di mana arti persahabatan yang selama ini kita junjung tinggi itu??? Di mana....?" kata Nisun dengan hidung lebarnya, yang seolah dapat menghisap semesta ini.
" Ayo Dolfi, di sini kan kau tokoh uttamanya, kau yang paling penting, ayo, ayolahhhh! rayuku
Dengan gerakan yang sulit ditebak kemana juntrungannya, dia akhirnya menaikki tangga dan bergabung dengan kami.
Saat kami tiba di lab, ternyata... KOSONG, ketok sana ketok sini, ternyata si kakak JT tak ada. Kini, kami berada dalam keputusasaan. Padahal kami memulai langkah kami dengan kepasttian dan harapan yang membuat kami saling membela dan mengasihi.
"Ya sudahlah, ayo kita duduk di sudut kota ini dan bercerita tentang perubahan demi perubahan yang terjadi di tempat ini. Setelah panjang lebar kami bercerita si hidung serem alias si Nisun, bilang bahwa ayahnya akan pergi ke sebuah dusun yang masih sangat primitif.
Kami tidak  membiarkan ayahnya pergi sendirian, kami tak kan rela ketika Rano Karno kami, diganggu oleh suku itu,  maka dari itu kami mengikutinya secara diam- diam.

Lima jam dari  tempat kami belajar kami sampailah ke tempat itu, kami bagaikkan syuting Primitive Runaway, ya Tuhan, pikirku, masih ada tempat seperti ini, di negeri sejaya ini.
Dalam perjalanan kami, kami menemui banyak orang aneh, tidak dapat dielakkan, ini sangat menggelikan, kami bertemu wanita dengan jambang aneh, kami bertemu juga dengan wanita berbetis bongkol, betisnya itu seksi sekaliiii, aduhaiiii seperti ubi kayu, kami juga melihat sesosok wanita anggun , mungkin dia itu putri dari kerajaan yang akan kami datangi nanti, dengan tahi lalatnya yang begitu mempesona, sungguh seorang wanita yang memiliki karakter kuat, dengan bengkak di tangan kanannya. Ini akan jadi perjalanan yang luar biasa. Di dalam bis yang kami tumpangi kami bertemu dengan seorang pemuda yang wajahnya persis dengan salah seorang pemain bulutangkis Korea, dia duduk di dekat kami, tepat di sebelah, wanita tahi lalat nan elegant, dia mengenakan head-set nya, tidak lama dari berjalannya bis kami, dia tertidur sangat pulas… pulas sekali.
 Elastisitas kepalanya sangat luar biasa, kepalanya bisa bergerak ke segala penjuru arah, tenggeng ke kanan, ke kiri, lalu ia mulai bermimpi (mungkin), ia mulai menempelkan bibirnya ke kursi, ia mulai menciumi kursi itu, kami tertawa terpingkal melihatnya, tapi ia tetap tidak menyadarinya ia tertidur sangat pulas.
“Le, kenapa sih dia itu??” tanya Natce.
“Tidur” jawabku
“Nyenyak banget yak.?.” tambahnya lagi
“Mungkin dia sibuk, dia terlalu lelah, dia harus mengerjakan tugas kuliahnya atau dia capek membuatkan susu untuk anaknya (?)” kataku sambil berkhayal.
Natce tertawa dan ternyata si gadis berbetis bongkol menahan tawa nya, ia seakan- akan bergabung dengan kami dalam hal rasa dan hasrat.
Tak lama setelah itu, barulah aku sadari bahwa si pemain bulutangkis Korea itu adalah SILUMAN LIUR. Saat kepalanya mulai tenggeng ke sebelah kanan, aku merasakan ada aura yang sangat berbeda, ternyata setelah ku amati, jari- jarinya mulai basah dan, ya Tuhan, ternyata ya, dia adalah Siluman Liur, liurnya mulai membasahi beberapa bagian tubuhnya. Kami ketakutan sambil menahan tawa yang jika tak ditahan akan meledak membuat bis kami terbalik, kami saling berpelukan, kaki kami saling timpa, saat si wanita betis bongkol itu menimpa kaki kami, ya ampun sangat berat rasanya. Gadis bertahi lalat itu ketakutan, tahi lalatnya mulai membesar mengecil karena ikut tegang. Sebenarnya Siluman Liur, bukanlah sosok makhluk yang jahat, tapi jika liurrnya sampai terkena orang lain, maka orang itu akan menjadi monster, monster yang mengerikan. Liur siluman itu, lebih jahat dari pada gigi Drakula.
Beruntungnya semua penumpang selamat, tidak ada satu pun penumpang yang terkena liur berbahaya itu.
Akhirnya kami sampai dengan selamat, dan kami masuk ke dalam sebuah hutan, tapi sayangnya kami tak melihat ayah Nisun, ya ampun, cobaan apalagi ini, kami berjalan terus berjalan.
Tiba- tiba….
"Kita kehilangan jejak" teriak si Dolfi
"Haa, kehilangan jejak...??? Tidak mungkin, ya ampunnnn, bagaimana  ini....? Aku takut!!!" kata si Wawan ketakutan..
"Halahhhhh, kamu pikir aku akan peduli, kamu hanya ingin dibilang lemah dan tak berdaya kan.....? Minta dikasihani....??? Jangan harap!!" kata si Natce dengan emosi yang membuncah-buncah.
"Lihat gadis itu, gadis itu membawa tombak...lariiiiiiiii!!! kataku memberi perintah pada yang lain
" Haaaa...lihat dia sangat lucu... lucuuuuuuu" kata si Dolfi
"Bodoh... lari !!! Dasar kau Batress!!!! Dia akan membunuhmu" kata Nisun.
Kami lari sekencangg-kencanggnya, sambil tawa kami yang begitu eksotis membuncah- buncah, gadis bermahkota daun nangka, dengan kaos dalam bintang-bintang yang sudah kekecilan, megejar kami dengan tombaknya yang begitu mengerikan. Kami lari secepat dan sekuat yang kami bisa. Tapi kami terjebak, mereka sudah mengepung kami, kami bagaikan domba kecil, kelu, kami dibawa ke tempat pembantaian, kami pasrah, kami lelah, tak disangka secepat ini kami lenyap dari dunia ini.
" Hoo... kaba iso mlebu here" kata orang yang nampaknya adalah ketua suku.
"Kami hanya jalan- jalan saja tak ada maksuud apa- apa" jawab Natce.
Aku berpikir mengapa dia bisa mengerti...????. Setelah pembicaraan yang cukup panjang antara Natce dan si Ketua Suku, akhirnya tali yang mengikat kami dilepaskan. Aku dan yang lain masih afak bingung mengapa Natce bisa mengerti perkataan orang itu. Natce menceritakannya kepada kami bahwa sebenarnya, dia adalah orang asli sini, ia adalah seorang putri dari kerajaan aneh ini, ibunya memberikannya kepada seorang dokter ketika Natce berusia 13 tahun, ibunya menyerahkaan kepada dokter itu karrena Natce adalah anak yang banyak permintaannya, ibunya merasa tidak sanggup dan akhirnya ia tinggal dan dipelihara dengan keluarga dokter itu.
Kami tetap ada di tengah, mereka mengitari kami berlima, si gadis berkaos dalam bintang itu menyerahkan mahkotanya dan tombaknya kepada Wawan karena keunikan jempolnya yang ajaib dan ia menngiginkan Wawan untuk jadi pendamping hidupnya saat ia sudah besar nanti.

Senin, 28 Februari 2011

SEUNTAI DAMAI UNTUK BANGSA

*Ku persembahkan, untuk kau Saudaraku...*

Suasana mencekam, sangat mencekam, ketika  Gunung Merapi melepaskan isi perutnya ke tanah negeri ini. Awan panas terus menyelubungi Jawa Tengah, tak bisa dielak lagi, abu tebal menyelimuti. Lahar panas, lava dingin tidak lagi mau kasihan melihat kami. Tidak pandang bulu, yang kaya, miskin, tua, muda, bayi, semua jadi sasaran panasnya isi perut Merapi. Si Mbah, para bocah, menangis, menahan setiap kesakitan, Bapak-bapak, ibu-ibu putus asa, tidak, hampir putus asa, hampir menyerah melihat keadaan yang begitu payah ini.
Dimana para cendikiawan yang berjanji ada buat kami…? Masih ingatkah mereka dengan janji-janjinya itu? Atau mereka hanya bercanda ketika bilang semua itu?? Mengapa mereka hanya diam, mereka malah pergi ke tanah Olympus, masih ingatkah mereka…? Tak tahukah mereka, si mbah sudah menahan sakit, tak denharkaah mereka tangisan dan jeritan bayi kecil yang ketakutan..? Bagaimana nasib rumah kami selanjutnya?? Bisakah kami tetap tinggal di sini, tersenyum di sini, menorehkan cita-cita kami, merangkai mimpi kami?. Kesusahan demi kesusahan kami alami di sini,, kami sedih, kami tidak bisa melakukan apa-apa, kami susah.
Pak Presiden, tolong kami…!!! Tolong kami, kami sudah tak tahan lagi. Lihat betapa ganaasnya gunung ini. Betapa ganasnya sahaatt kami ini. Lihatlah air mata kami, lihat luka kami. Kami seolah-olah kehilangan segalanya. Susahnya menyungging senyum di bibir ini, air mata kami akan habis, untuk hal ini. Anak-anak kami terpaksa cuti dulu dari sekolah. Mata kami sembab, kami bertiga puluh enam ribu, kami seakan –akan dikejar kematian. Benda-benda kami habis, habis terbakar, luka-luka, kami rasakan,  bertubi-tubi, keluarga kami hilang, meninggal, terpisah, kami bingung, kamio sedih, kami susah.
Pak Presiden, Anda sudah datangkah?? Kami menunggu Anda, tapi sebentar, apakah ketika Anda datang, Merapi berhenti meletus..? Ya ampun, suara minta tolong semakin berdengung di telinga ini, mayat yang terbakar semakin banyak dan bertambah setiap harinya. Tangisan ibu, “tolong anak saya, Mas, selamatkan dia dululah..”. “ Mbah, bangun, Mbah, ayo Mbah kita pergi dari sini”, “Mbok, Mbok di mana..?”. Semuanya kebingungan, semuanya kocar-kacir.
Kami butuh peralatan medis, kami butuh susu untuk bayi kami, kami butuh kehidupan yang jauh dari ancaman. Sekarang kami tertekan, kami dipindah ke sana, di pindah ke sini, kami hidup dalam bahaya,  kami hidup dalam duka. Merapi tetap mengancam hidup kami. Bantuan datang, makanan datang. Ya, kami sudah kelaparan, kami hampir mati, mati ketakutan, mati kesepian, kami tidak tahu keluarga kami di mana. Dimana nenek kami yang sudah renta itu, masi hidupkah dia…?
Pak Presiden..? Pak, Bapak masih ingat kami..? Bapak masih kenal dengan kami ‘kan..? Masih pedulikan…?. Oh, ya ampun… Kami lupa, kami hampir lupa, kami punya Tuhan. Tuhan, yang pasti membuat semuanya jadi mungkin, tolonglah kami Tuhan. Tolong kami secepatnya, kami sangat membutuhkan Engkau, maaf agak memaksa, tapi ini terdesak, tak tahu lagi, kemana kami harus berlari, sebab kami sangat ketakutan, tak tahu lagi kami harus kemana bercerita kesusahan ini, sebab seemuanya seolah tutup telinga tak mau dengar kami. Kami ingat, kami punya Tuhan, yang selalu ada, bahkan saat semua orang melupakan dan meninggalkan kami.
Tuhan… Tuhan.. Engkau tak tidur kan..? Pasti Engkau sudah mempersiapkan pertolongan-Mu yang ada di luar jangkauan pikiran kami, kami yakini itu. Dulu, Engkau pernah membelah laut, kan?? Jadi kami yakin, Tuhan pasti akan membuat segalanya jadi indah, ya pada waktunya, sekarang memang berasa pahit, tapi kami melihat betapa manisnya persaudaraan kami, betapa manisnya kebaikan-Mu.


M A T E M A T I K A


M
atematika. Bagaimana menurutmu..? Sulit, melelahkan,atau bahkan menakutkan. Buatku Matematika itu menyebalkan, membuat aku kadang jadi tidak karuan, jadi tak berdaya. Bagiku Matematika merupakan pelajaran yang tak ada habisnya, tak berujung, tak terpecahkan.
Mungkin, begitulah juga hidup, misteri, penuh teka-teki. Hidup itubagaikan bola yang tak ada ujungnya. Menggelinding, terus berputar, atas, bawah, senang, susah, bergantian, dan seringkali posisi bawah terus jadi posisi yang terus mampir. Waktu rasa senang hanyalah sebentar, sangat singkat. Apa wajib bersyukur? Pastinya, bersyukurlah dalam segala hal, katanya itulah kunci kebahagiaan, meski sulit bersyukur dalam kancah kemiskinan.
Dari hidup aku belajar apa itu arti senyuman, dari hidup aku juga belajar apa itu menghargai, dari hidup aku juga belajar apa itu ketekunan, apa itu perjuangan, dan dari hidup pulal-lah aku tahu arti kegagalan. Kadang hidup memaksaku untuk mengerti arti menyesal. Namun, bagiku hidup adalah kesempatan, tak patut disia-siakan. Aku pernah melihat seorang pekerja keras harus berakhir di usia 21 tahun, sungguh, ku akui, hari itu adalah hari di mana aku menyadari bahwa aku takut dengan apa yang namanya KEMATIAN. Menghargai hidup, inilah yang sedang ku pelajari sekarang, ini lebih penting dari segala disipllin ilmu yang pernah ku tahu. Hidup itu sebuah hadiah, yang tak ada tandingannya. Dia sudah berikan itu kepadamu, kepadaku, kepada mereka, kepada kita. Saat kau menolong gelandangan itu, saat kau tersenyum atau bahkan mau menjadi teman bagi si miskin yang dikucilkan, itulah hidup.
Namun, pandanganku ini berbeda dengan sekelompok orang di seluruh dunia ini, orang Indonesia, orang Jepang, orang Amerika, orang Prancis, orang Korea, paham ini dianut baik sengaja ataupun terpaksa dengan beberapa orang entah dia artis, mantan perdana menteri, pengusaha, orang biasa, bahkan gelandangan sekalipun menganut paham ini. Banyak orang yang hidup, meereka bertekun, berjuang untuk mencapai sebuah kelayakan. Mungkin memang, akhirnya, mereka dapatkan apa yang disebut dengan popularitas, mereka juga dapatkan materi yang jadi dambaan mereka selama ini. Tapi apa selanjutnya…? Mereka mulai menjadi me-Mamon-kan ambisi mereka, mereka jadi budak seks, untuk dapatkan popularitasnya, mereka yang inginkan kekayaan, tak mau berlama-lama, mereka akhirnya korupsi, ada juga yang terjebak di dunia prostitusi, ketika mereka mulai tersadar tidak sedikit yang menganggap semuanya sudah sia-sia dan tidak ada kesempatan untuk kembali di jalan kebenaran, akhirnya mereka memutuskan untuk loncat dari lantai 7 atau mengambil silet dan melukai diri sendiri hingga darah habis dan akhirnya mati sia-sia, mati dalam ketidaktahuannya tentang apa hidup itu sebenarnya.
Gayus Tambunan, siapa yang tidak tahu laki-laki ini, dia bak selebriti paling top di negeri ini, saat ini. Laki-laki yang memiliki kekayaan Rp. 84 M (yang terdeteksi), menyimpan bannyak rahasia, penuh misteri, atas kasusnya, yang katanya  PENGGELAPAN UANG NEGARA. Tapi apa arti hukuman itu buatnya, hukuman 7 tahun dan denda Rp 300 juta, itu sebenarnya tidak sebanding dengan kemewahan yang sudah dia kecap, dia sudah jalan-jalan kemana-mana, Bali, Macau, Singapura, macam-macam tempatlah, yang mungkin tak saya ketahui, dan dia disebut-sebut sebagai MAFIA PAJAK KELAS TERI. Apalagi ini mafia pajak kelas teri???? Bagaimana yang sekelas PAUSnya, oh bukan bagaimana kelas KAKAP, yang teri saja kekayaan yang diketahui Rp 84 M, lalu ditambah dengan hasil dari SPBUnya, WOW…!! Pasti nilai uangnya fantastis, dan berapa banyak uang negara yang dikeluarkan untuk mengurus kasus ini, tak sudah-sudah kasus ini, terus-menerus.
Lalu bagaimana si KORUPTOR yang menggawangi Bang Gayus…? Wah, berapa banyak ya, harta kekayaan yang ia miliki, pasti rumah mewahnya ada dimana-mana, mau apa tinggal tunjuk saja, bahkan orangpun bisa mereka beli. Lalu bagaimana nasib si jelata, yang harus kehilangan rumah dan semua harta benda yang nilainya mungkin ehm… jauhlah, saat gelombang tinggi itu datang, saat letusan demi letusan itu keluar, saat banjir datang, dan mungkin ketika saat-saat itu datang si PAUS kaya itu sedang tertidur pulas. Hidup itu mungkin sudah tidak adil lagi. Yang kaya makin kaya, yang kaya makin miskin (kata si Raja Dangdut), negeri inipun sudah begitu susah ditambah susah lagi,  bencana sana-sini belum kelar, si pemimpin minta naik gaji, bukankah ini hal yang lucu. Sementara banyak anak buahnya yang mungkin susah untuk dapatkan air bersih, beliau minta naik gaji, katanya, yang lain sudah dinaikkan gajinya sesuai dengan kerja keras mereka, aduh melankolisnya.pemimpin bangsa ini. Bagaimana, Bapak ini, belum ada hasil nyata untuk bangsa saja sudah minta naik gaji…? Mentang-mentang harga cabai naik, mungkin itu juga salah satu factor mengapa beliau minta naik gaji. Sementara itu, nenekk-nenek yang ada di jalan—jalan itu, harus mencari beras yang mungkin tercecer, untuk bantu-bantu makan keluarga, begitu katanya. Betapa ironinya nasib neegeri ini. Miris…!!!
Si miskin harus berpanas-panasan untuk dapatkan makan hari ini, jika tak bekerja ya tidak bisa makan. Dimana pemerataan kesejahteraan itu? Mungkin sudah dilupakan, mana ada lagi orang kaya yang mau berpikir keras untuk keseejahteraan si miskin itu. Si miskin ini tetap terjebak dalam suatu keadaan serba berkekurangan. Namun, bagi mereka untuk apalagi mengeluh, mungkin juga tak mau melankolis, mengasihani diri sendiri, mereka sudah lelah untuk lakukan hal itu.
Itulah hidup, jika diperhatikan memang hidup ini sulit, sangat sulit, siapa yang tahu apa yang akan terjadi, 3 menit kemudian pun tidak ada yang tahu. Mungkin kita sering berpikir hidup ini bak Matematika, MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan, tapi bukan itu inti dari hidup ini bukan…? Aku tetap percaya bahwa ketekunan akan menimbulkan tahan uji, dan dari tahan uji akan datang kekuatan untuk terus boleh berbuat yang baik dan benar untuk diri sendiri dan sekitar, itulah hidup

Selasa, 22 Februari 2011

Karena Kau Berharga di Mata Ku

Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.
Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
 Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.
Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.”
                Dari data di atas, kita melihat bahwa betapa payahnya remaja di dunia, khususnya di negeri ini. Semakin hari semakin banyak remaja yang terjerumus ke lembah hitam ini, mungkin berawal dari sebatang rokok, lalu cicip-cicip  ganja, akhirnya ketagihan, pacaran, tapi berlebihan, cenderung mengikuti hawa nafsu, nafsu itu dibilang cinta dan terjadilah kejadian yang seharusnya belum terjadi itu, dan akhirnya hamil, tidak terima si cabang bayi tak berdosa diaborsi.
                Tidakkah kalian berpikir beratus-ratus kali sebelum melakukannya..? Betapa sedihnya ayah, ibu kalian… Betapa kecewanya mereka, kau yang jadi kebanggaannya, harus hancur seketika karena narkoba, kau yang jadi harapannya harus meredup hanya karena free sex. Lalu bbagaimana denggan cita-citamu..? Haruskah itu terhenti dan hanya jadi khayalan bual semata?
                Lalu bayi yang digugurkan??  Bagaimana mereka, mereka haruus mati tanpa melihat indahnya dunia hanya karena kejahatan si ayah dan si ibu yang tak bertanggung jawab. Para bidadari menangis melihat si bayi tak tahu apa-apa harus mmenderita karena keegoisan ayah ibunya.
                Aborsi. Cukup terkenallah, dan kini erat kaitannnya dengan remaja. Gawat!!
                Situs web mengatakan “kehidupan dimulai saat setelah pembuahan terjadi” lalu bagaimana dengan si janin yang hidupnya dengan sengaja diakhiri karena si empunya cabang bayi tidak siap…? Bagitu tak berharganyakah nyawa itu? Begitu mudahnya dia bilang dia tidak siap, begitu gampang dia bilang malu.  Mengapa mau melakukan? Semudah itukah mereka menjawab? Namun mengapa mereka mau melakukan hubungan yang cenderung sebenarnya hanya mengikuti hawa nafsu itu..?
                Beberapa agama berpendapat, bahwa kehidupan sudah bermula saat konsepsi.  Nah, kalau si janin diigugurkan di usia 3 bulan…? Manusia  yang menggugurkannya disebut apa kalau bukan pembunuh..? Mungkin agak kasar atau bahkan sangat kasar, tapi memang itulah namanya.
Kawan, tahukah kau betapa indahnya hiidup ini..? Jangan karena nafsumu itu, kau biarkan si kecil itu tidak bisa merasakan keindahan dunia ini, mungkin mereka bilang “ ini hasil kecelakaan, tidak sengaja” tapi ku beri tahu ya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Tuhan  menciptakan kita bukan sebuah kebetulan. Dia, sesungguhnya sudah menetapka rencana-rencana hebat dalam hidup kita. Hapus dari pikiranmu kata kata “anak haram” itu salah!! Kita beggituu indah di mata-Nya. Tuhan sangat mengasihi kita.
Jika kau tak ingin ini terjadi  DON’T DO IT TO YOURSELF, YOU’RE SO SPECIAL, YOU’RE GOD’S HOUSE. Jikapun ini terjadi  aku ingin katakan “ terima kasih untuk tidak membunuhnya”. Kau, aku, dia, dan mereka sangat berharga di mata Allah, kita dirancangakan untuk menggenapi firman-Nya, untuk jadi kemuliaan bagi nama-Nya.
“HARGAI DIRIMU KARENA KAU BERHARGA DI MATA-KU"